Blog Archives

© Algi Febri Sugita
Artikel, Interview,

Photographer Interview : Algi Febri Sugita – Bandung

Silahkan Anda memperkenalkan diri?
-Nama saya Algi Febri Sugita, Lahir di Bandung 21 tahun yang lalu. Humoris berkacamata suka memotret dan bermain musik.

Apa kenangan masa kecil Anda terhadap seni?
-Kenangan yang saya ingat adalah sewaktu saya beres di khitan saya sudah memegang kamera film auto pada saat itu. Saya memotret keluarga terdekat dan apapun, Lalu pergi ke tempat percetakan dahulu mencetak foto dengan cara di “Afdruk” dan menunggu beberapa hari hingga akhirnya jadilah foto-foto dalam wujud fisik.

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

Apa yang pertama kali menarik Anda ke fotografi dan bagaimana Anda menemukannya?
-Yang pertama kali menarik saya terjun ke dunia fotografi adalah pengaruh salah satu sahabat saya Desta Dani Syarif ( @dsdesta ). Pada awal tahun 2015 saya diajak olehnya untuk ikut dan aktif bergabung belajar bersama dengan komunitas fotografi menggunakan ponsel di Kota Bandung. Disana sering diadakan hunting dan sharing bareng. Dari situlah saya mulai kecanduan memotret apapun yang berada disekitar saya, Sebelum pada akhirnya saya belajar mengenai “Street Photography”.

Pertengahan 2015 saya mulai bergabung dengan Komunitas Street Photography di Kota Bandung yaitu “Bandoeng Photostreet Shooter” saya bertemu banyak orang-orang hebat yang membingbing saya mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu namun salah satunya adalah Tirta Trinanda ( @tirtatrinanda ). Beliaulah yang banyak menjelaskan mengenai dunia fotografi kepada saya dari dulu bahkan hingga sekarang.

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

Apa yang membuat fotografi begitu spesial untuk Anda?
-Bagi saya pribadi fotografi bisa menjadi mesin waktu dikemudian hari mungkin umur kita akan habis dimakan waktu namun hasil karya yang telah kita buat melalui fotografi itu akan bisa dinikmati hingga generasi yang selanjutnya, Fotografi bagi saya sekaligus menjadi media untuk berbagi serta merekam kejadian dan bercerita apa yang saya lihat serta rasakan pada saat itu.

Bagaiman Perkembangan fotografi di tempat anda tinggal?
-Cukup berkembang pesat apalagi dizaman era digital seperti ini.

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

Apa perubahaan yang anda rasakan setelah anda mengenal dunia fotografi?
-Perubahan yang sangat terasa didalam diri saya semenjak mengenal dunia fotografi adalah kemanapun kapanpun dan dimanapun saya saat melihat sesuatu hal yang menurut saya menarik kini saya harus memotretnya hahaha serta saya banyak belajar mengenai perubahan diri seperti agar selalu ramah dan tersenyum serta menahan ego dan tidak cepat puas serta terus belajar mengenai fotografi.

Bagaimana Anda tahu ketika sesuatu, seseorang, atau beberapa tempat layak untuk difoto?
-Mungkin ini setiap orang akan berbeda namun saya pribadi prinsip yang saya gunakan adalah “Apa yang kamu rasa itu unik dan layak dibagikan potret aja dulu” terlepas itu dari teknik serta komposisi dll. Teman saya pun pernah berkata “Karena Fotografi itu adalah Rasa” jadi percaya pada insting dan banyak melihat hasil karya orang lain adalah kunci yang selalu saya pegang hingga sekarang.

 

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan koneksi Anda dengan subjek Anda?
-Saya pribadi jika memang situasi nya memungkinkan untuk bisa berkomunikasi dengan subjek saya pasti lakukan itu minimal dengan pertanyaan serta obrolan ringan agar situasi lebih cair dan subjek pun tidak merasa terintimidasi saat saya memotret kegiatannya. Kadang dengan seperti ini kejutan-kejutan yang tidak terduga sebelumnya akan kita temukan dan Intinya bagaimanapun tatakrama bagi saya pribadi lebih diutamakan.

Kamera yang anda gunakan?
-Kamera pemberian ibu saya tercinta.

 

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

 

Satu hal yang selalu Anda ingat selama anda mengerjakan proyek fotografi?
-Bertemu banyak orang hebat dimanapun.

Fotografer mana yang menginspirasi Anda?
– Fotografer National Geographic yaitu Michael Yamashita, John Stanmeyer dan George Steinmetz.

 

© Algi Febri Sugita

© Algi Febri Sugita

 

Buku favorit anda tentang fotografi
-National Geographic, Kilas Balik Antarafoto dan Visual Literasi.

Bagaimana menurut Anda teknologi mengilhami kreativitas dalam fotografi?
-Menurut saya pribadi di zaman serba mudah seperti ini kita diberikan kemudahaan lebih dalam berkarya dan teknologi sebagai medianya yang terpenting adalah “Man Behind The Gun” siapa orang yang mengoprasikan teknologi itu sendiri dalam berkreativitas.

Pencapaian apa yang telah Anda dapatkan selama karier Anda dalam fotografi?
-Melihat kedua orang tua saya pernah tersenyum dan bangga berkat fotografi saja sudah merupakan sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dalam karier di dunia fotografi.

Ada tips untuk fotografer jalanan di luar sana?
-Banyak melihat karya photographer lain, jangan takut mencoba dan terus berlatih serta belajar.

 

 

Algi_febri_sugita

Instagram  @_algifs_
Website:  algifebrisugita.wordpress.com

Suryo Brahmantyo - siboglou 01
Artikel, Sharing,

Kritik Vs Apresiasi

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

 

Sebuah kutipan dari dosen Tomi Saputra (Udatommo) yang saya kutip dari tulisannya di blog, beliau udatommo.com berkata seperti ini:

Ketika kamu berkarya tidak perlu selalu mendengar kritik atau masukan dari orang lain. Belum tentu kritik itu benar. Bisa saja orang tersebut hanya iri dengan bagusnya karya kamu, atau bisa juga karena mereka tidak mengerti tentang karya kamu.

Kemudian Uda melanjutkan :

Tidak jarang kritikan yang masuk kepada anda bernada mendikte. Karya anda adalah diri anda sendiri, tidak ada orang lain yang mengenal karya tersebut kecuali anda sendiri.

Sejenak saya teringat ketika seorang teman bicara tentang budaya kritik di negeri ini. Ia bilang bahwa kritik cenderung dimaknai sebagai sebuah kecaman atau opini yang mengandung unsur ketidak sepakatan terhadap seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan kritik yang diterapkan oleh orang Eropa. Kritik, bagi mereka merupakan proses pemahaman terhadap sesuatu (misalnya; film dan musik). Mungkin saja benar bahwa ada perbedaan makna ‘kritik’ antara di sini dan di sana. Jika menilik pada penjelasannya, saya punya kosakata yang lebih pas; apresiasi.

Namun sepertinya apresiasi juga belum menjadi budaya populer di Indonesia. Di beberapa belahan lain di negeri ini, ada yang harus tumbuh dan berkembang dengan terpaan badai kritik yang cenderung mengecam. Ini bukan perkara salah atau benar, hanya saja orang seperti Andrew Neiman tidak benar-benar nyata. Yang menyedihkan jika mendapati seorang teman memutar haluan, memutuskan untuk drop out dari sebuah institusi pendidikan hanya karena dianggap tidak becus berkarya. Hal yang penting untuk disoroti di sini adalah soal alokasi waktu; berapa lama yang telah terbuang dan berapa lama yang dibutuhkan untuk belajar hal baru.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 03

© Suryo Brahmantyo

 

Melompat ke waktu lain. Di sebuah Minggu pagi, ketika itu saya berada di tengah sebuah diskusi fotografi. Dengan memanfaatkan lokasi di sebuah kedai makan, beberapa orang bergilir mempresentasikan karya hasil perburuan masing-masing beberapa jam sebelumnya. Dan pada bagian akhir, memberikan kesempatan kepada audiens untuk berkomentar.

Pada bagian akhir tersebut membuat saya kurang nyaman karena kekhawatiran saya terbukti benar. Sebuah forum yang tadinya saya harapkan menjadi wadah apresiasi justru menjadi ajang penilaian layaknya kontes adu bakat di televisi. Masukan-masukan yang disampaikan audiens cenderung sepihak. Kritik yang terlontarpun jamak bernada mendikte; memberikan rekomendasi untuk melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan terhadap dirinya, terhadap karyanya — bahkan tanpa diminta.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 02

© Suryo Brahmantyo

 

Sekilas hal ini memang remeh-temeh. Kritik, dalam hal ini sama seperti lemak pada tubuh; tidak banyak yang memperhatikan keberadan dan fungsinya. Keduanya sama-sama dapat memberikan efek negatif jika berkekurangan dan berkelebihan. Dengan porsi dan kondisi yang tepat, kritik juga dapat memberikan energi tertentu. Apa yang dilakukan Terence Fletcher terhadap Andrew Neiman dapat menjadi contoh.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, dan tentu saja caranya pun beragam. Bisa jadi kontras dengan yang biasa kita lakukan. Dengan melihat karya orang lain dari sudut pandang sendiri bukan saja menjadikan kita egois, tapi juga menumpulkan pikiran untuk merangsang pertanyaan-pertanyaan. Terjawab atau tidak, itu bukan yang terpenting, karena klimaksnya ada pada pertanyaan yang terlontar.

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Instagram has returned invalid data.
error: Content is protected !!