Browsing Category

Street photography

Artikel, Interview, Street photography,

Photographer Interview : Tawanwad Wanavit From Thailand

Bisakah Anda memperkenalkan diri anda?

Hai, saya Tang Tawanwad Wanavit. Saya saat ini berusia 27 tahun, bekerja sebagai sinematografer di Thailand, tetapi saya jatuh cinta pada fotografi. Saya telah memotret fotografi jalanan selama 2 tahun sekarang.

Could you please introduce yourself?

Hi, I’m Tang Tawanwad Wanavit. I’m currently 27 years old, working as a cinematographer in Thailand, but I fell in love with photography. I’ve been shooting street photography for 2 years now.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Apa kenangan masa kecil Anda terhadap seni?

Orang tua saya adalah seniman sehingga mereka menyukainya ketika saya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni, saya sangat senang melakukan sesuatu yang mereka banggakan. Mereka selalu mendorong saya untuk melukis, menggambar, dan bahkan menari ketika saya masih muda, jadi di satu sisi, saya selalu berada di sisi baik seni.

What is your childhood memories towards the arts?

My parents are artists so they love it when I do something art related, I’m very happy to do something that they’re proud of. They always encourage me to paint, draw, and even dance when I was young, so in a way, I’m always on the good side of art.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Apa yang pertama kali menarik Anda ke fotografi dan bagaimana Anda menemukannya?

Hal pertama yang harus saya akui, adalah gagasan untuk menjadi keren. Saya pikir itu terlihat keren untuk berjalan membawa kamera, saya terinspirasi oleh karya Tavepong Pratoomwong dan dia sangat keren dengan foto-fotonya. Ide itu tidak melekat pada saya sangat lama, kemudian saya menjadi bosan untuk berusaha keras untuk menjadi keren untuk mengesankan orang lain, saya kemudian tertarik pada gagasan eksperimen.

What first drew you to photography and how did you discover it?

The very first thing I have to admit, it was the idea of being cool. I thought that it looks cool to walk around carrying a camera, I was inspired by Tavepong Pratoomwong’s works and he’s very cool with his photos. That idea didn’t stick to me very long, later on I became bored of trying so hard to be cool to impress other people, I then become attracted to the idea of experiments.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Apa yang membuat fotografi jalanan begitu spesial untuk Anda?

Fotografi jalanan benar-benar tempat bermain bagi saya. Ini sangat istimewa karena memiliki begitu sedikit aturan dan begitu banyak ruang untuk bermain. Saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan, biasanya ketika saya ingin tahu tentang bagaimana foto akan terlihat jika saya melakukan sesuatu, saya bisa melakukannya!

What makes street photography so special for you?

Street photography is literally a playground for me. It’s so special because it has so little rules and so much room to play. I can do anything I want, usually when I’m curious about what the photo would look like if I do something, I can just do it!

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Apa perbedaan yang diciptakan fotografi dalam hidup Anda?

Ini menciptakan obsesi besar bagi saya, dan saya tidak bisa berhenti melakukannya. Tidak peduli betapa lelahnya saya, betapa sibuknya saya, saya selalu punya waktu untuk fotografi. Itu adalah sesuatu yang harus saya lakukan untuk melepaskan energi saya. Saya melihat dunia secara berbeda, dan saya menjadi semakin sensitif terhadap apa yang terjadi di sekitar saya.

What difference does photography create in your life?

It creates this huge obsession for me, and I cannot stop doing it. No matter how tired I am, how busy I am, I always have time for photography. It’s something I need to do to release my energy out. I look at the world differently, and I become more and more sensitive to what’s going on around me.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Bagaimana Anda tahu ketika sesuatu, seseorang, atau beberapa tempat layak untuk difoto?

Jika saya melihat itu lebih dari satu kali, atau saya berhenti dan melihatnya, maka ada baiknya untuk mengambil foto.

How do you know when something, someone, or some place is worth shooting?

If I look at it more than once, or I stop and look at it, then it’s worth shooting.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan koneksi Anda dengan subjek Anda?

Ini adalah sesuatu yang menjadi masalah saya di masa lalu, saya takut pada orang-orang dan hewan yang saya potret karena saya selalu berpikir bahwa mereka akan menyerang saya, Jadi bahasa tubuh saya selalu menunjukkan bahwa saya gugup ketika saya mendekati mereka, Jadi mereka selalu merasa bahwa saya melakukan sesuatu yang tidak saya yakini dan mungkin sesuatu yang buruk. Kemudian, saya mencoba berteman dengan mereka. Ketika saya memotret, Saya banyak tersenyum, bukan karena saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya ramah, tetapi saya lebih bersenang-senang ketika saya memotret. Ketika saya berpikir mereka adalah teman saya, kebanyakan orang dan hewan merasakannya, dan mereka tidak keberatan saya memotret, tetapi tentu saja, ketika saya memotret mereka ketika mereka tidak sadar, dan mencaritahu setelahnya, itu bisa menjadi beberapa konflik.

How do you describe your connection with your subject matter?

This is something I have problem with in the past, I was scared of the people and the animals I shoot because I always think that they would attack me, so my body language always show that I’m nervous when I go near them, so they always sense that I’m doing something I’m not confident of and it’s probably something bad. Later on, I try to be friends with them. When I shoot, I smile a lot, not because I want to show them that I’m friendly, but I have more fun when I shoot. When I think they’re my friends, most people and animals kinda sense it, and they don’t mind me shooting, but of course, when I shoot them when they’re not aware, and found out later, there could be some conflict.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Gear anda?

Lumix GX9 dengan lensa 15mm dari Leica Summilux DG, dibuat untuk Panasonic.

Your gear?

Lumix GX9 with 15mm lenses from Leica Summulix DG, made for Panasonic.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Satu hal yang selalu kamu ingat di jalanan?

Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak membawa kamera sampai saya menyusun gambar kasar di kepala saya terlebih dahulu, kadang-kadang momen itu bisa hilang jika saya memunculkannya terlalu cepat.

One thing you always make sure to remember on the streets?

I always remind myself to not bring the camera up until I compose a rough image in my head first, sometimes the moment could be gone if I bring it up too fast.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Fotografer mana yang menginspirasi Anda?

Tavepong Pratoomwong menginspirasikan saya ke dalam fotografi jalanan, kemudian saya memiliki era obsesi flash saya, yang dimulai dari tahun ini. Gavin Bragdon, Gareth Bragdon, Salvatore Matarazzo, dan Barry Talis sangat menginspirasi saya.

Which photographers inspire you?

Tavepong Pratoomwong inspired me into street photography, then I have my flash obsession era, which started from this year. Gavin Bragdon, Gareth Bragdon, Salvatore Matarazzo, and Barry Talis inspired me a lot.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Anda punya buku favorit tentang fotografi?

Minutes to Midnight karya Trent Parke adalah favorit saya sepanjang masa.

You have any favorite books on photography?

Minutes to Midnight by Trent Parke is my all time favorite.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Menurut Anda, bagaimana teknologi mengilhami kreativitas dalam fotografi?

Saya pikir semakin banyak teknologi, semakin banyak kemungkinan. Saya selalu bersemangat untuk teknologi baru. Jika Anda bertanya kepada saya tentang batasan apa yang baik untuk fotografi jalanan dan apa yang akan saya katakan, Fotografi adalah tentang memanipulasi dan menangkap cahaya. Jika teknologi yang Anda gunakan adalah tentang memanipulasi lampu, ada baiknya datang pada saya.

How do you think technology inspires creativity in photography?

I think the more technology, the more possibilities. I’m always very excited for new technologies. If you ask me about the limits of what’s okay for street photography and what’s too much I would say, Photography is about manipulating and capturing lights. If the technology you use is about manipulating the lights, it’s good to go for me.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Prestasi apa yang telah Anda dapatkan selama karier Anda dalam fotografi?

Miami Street Photography Festival 2015 – Finalist

Street Foto San Francisco 2016 – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2017 – Finalist

Observe Collective, Down by the River, Iserlohn Germany Contest – 1st Place

Street Foto San Francisco 2017 – Finalist

Street Foto San Francisco 2018 – Finalist

London Street Photography Festival 2018 – Finalist

Bangkok Street Photography Festival – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2018 – Finalist

Italian Street Photo Festival 2018 – Finalist

What achievements have you gained during your career in photography ?

Miami Street Photography Festival 2015 – Finalist

Street Foto San Francisco 2016 – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2017 – Finalist

Observe Collective, Down by the River, Iserlohn Germany Contest – 1st Place

Street Foto San Francisco 2017 – Finalist

Street Foto San Francisco 2018 – Finalist

London Street Photography Festival 2018 – Finalist

Bangkok Street Photography Festival – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2018 – Finalist

Italian Street Photo Festival 2018 – Finalist

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Ada tips untuk calon fotografer jalanan di luar sana?

Saya merasa seperti saya masih sangat baru juga, tetapi jika ada beberapa saran yang dapat saya berikan, itu harus tentang mengelola emosi Anda terhadap perhatian yang diberikan orang kepada Anda. Ada periode di mana saya mendapat begitu banyak perhatian dan saya terobsesi dengan itu saya menjadi serakah. Selalu waspada dengan apa yang terjadi di jalur Anda, dan hargai apa yang Anda miliki saat ini.

Any tips for aspiring street photographers out there?

I feel like I’m still very new too, but if there’s some advice I can give, it has to be about managing your emotion toward the attentions people give you. There was a period where I got so much attention and I was obsessed with it I become greedy. Always be aware of what’s going on in your path, and appreciate what you have in the present time.

Tang Tawanwad Wanavit

Instagram : tang_tawanwad
Facebook : tang tawanwad wanavit

Artikel, Interview, Street photography,

Photographer Interview : Aizad Fadzli

Silahkan Anda memperkenalkan diri?

Terima kasih di atas peluang yang diberikan. Perkenalkan, nama saya Aizad Fadzli Co-Founder ISP Collective – Invisible Street Photography dan Ex-admin FJM Street Photography Malaysia, Aktif di dalam scene street photography Malaysia hampir 5 tahun.

Apa kenangan masa kecil anda terhadap seni?

Sejak awal umur, pra sekolah dan sekolah rendah; seni visual telah ditekankan bagi mengaplikasikan kemahiran seni, mengespresiasi diri, mengaspresiasi seni bagi memperolehi pengalaman estetik dan menyampaikan idea melalui imaginasi dan kreativiti.  Seni yang dimaksudkan adalah seni lukisan dan saya cenderung untuk melukis pada tempoh ini. Boleh dikatakan aktiviti seni visual yang dilaksanakan semasa zaman kanak-kanak lebih menekankan proses dan luahan ekspresif.  Proses pembelajaran dan penguasaan kemahiran ini yang telah mempengaruhi persepsi, kreativiti dan sensitiviti terhadap keadaan sekeliling apabila dewasa.

 

© Aizad Fadzli

© Aizad Fadzli

 

Apa yang pertama kali menarik Anda ke fotografi dan bagaimana Anda menemukannya?

Pada tahun 2002, saya telah dihadiakan kamera dan sejak dari itu, saya akan mengambil apa sahaja yang menarik perhatian. Saya menginginan detik-detik itu dirakamkan secara kekal. Faktor utama berkemungkinan adalah dari pemerhatian. Apabila tiba di tempat baru, kita akan memerhati persekitaran dan melihat dengan cara yang berbeza. Bermula dari detik itu, saya memahami apa yang telah merakam gambar-gambar yang mempunyai mesej cerita, ekspresi dan emosi kerana ia mampu menghubungkan jiwa-jiwa manusia. Pengenalan kepada komuniti Street Photography Malaysia merupakan a little push in the right direction.

Apa yang membuat fotografi jalanan begitu spesial untuk Anda?

Bermula dengan landscapes photography, kemudiannya beralih kepada human interest dan kedua-dua ini berlaku dalam tempoh sekitar tiga tahun. Saya mula menyoal diri ini bukanlah apa yang saya mahukan. Sejak dari lima tahun lalu, saya menyelusuri streets dan ini yang akan saya lakukan seterusnya pada masa yang hadapan.

“What we see is not made of what we see, but of what we are.”  Fernando Pessoa

 

© Aizad Fadzli

© Aizad Fadzli

 

Bagaimana Perkembangan fotografi di tempat atau negara anda tinggal?

Senario perkembangan street photography di Malaysia tidak terlalu berbeza dengan senario di Indonesia. Seperti yang dinyatakan pada perbincangan bersama Maklumfoto mengenai Senario perkembangan street photography di Indonesia pada November 2017, komuniti-komuniti Street Photography disini perlu saling mempromosikan genre ini ke satu tahap yang lebih tinggi dan keluar dari tradisi kepompong keselesaan. Resolusi jangka panjang terhadap perancangan masa depan dan pengubahsuian pendekatan perlu mengikut kesesuaian semasa. Secara keseluruhannya, scene disini telah berkembang dengan pesat dengan kewujudan komuniti dan bilangan pengiat Street Photography yang semakin ramai.

 

© Aizad Fadzli

© Aizad Fadzli

Bagaimana Anda tahu ketika sesuatu, seseorang, atau beberapa tempat layak untuk difoto?

ia bergantung pada situasi dan kombinasi beberapa elemen untuk menghasilkan foto yang berkualiti dan kuat. Setiap scene mempunyai potensi yang tersendiri. Elemen utama dalam Street Photography adalah penceritaan dan decisive moment. Komposisi dan pencahayaan yang bersesuaian akan menjadikan penceritaan lebih menarik lagi.

Untuk menjadikan hasil karya lebih menarik dan efektif, kaedah Decisive Moment yang dipopularkan oleh Henry Cartier Bresson biasanya digunapakai sebagai panduan.  Decisive moment berarti rekaman dibuat tepat saat kemuncak  sesuatu happening atau scene dihadapan kita bersertadengan komposisi yang mantap. Peak moment + Form (Formal Element) Content (Penceritaan yang bermakna ) = Decisive Moment, tetapi Ia jarang berlaku. Dalam satu hari sekiranya anda memperoleh 100-200 foto yang dirakamkan, mungkin ada satu atau dua foto yang berkualiti dan kemungkinan tiada langsung.

Bagaimana Anda mendeskripsikan koneksi Anda dengan subjek Anda?

Secara jujur, saya tidak meluangkan terlalu banyak masa di satu-satu tempat. Saya kan meninggalkan scene tersebut setelah saya memperoleh foto yang diingini. Saya hampir tidak pernah mempunyai perbualan dengan subjek. Kebanyakan tidak perasan foto mereka diambil dan jika mereka perasan saya hanya melihat mereka dan memberikan senyuman. Senyuman membantu menenangkan keadaan.

Kamera yang anda gunakan?

Sony A6000, Sigma 19mm dan Fujifilm X100 Series, 28mm. Kebanyakkan orang berfikir mereka perlu memiliki peralatan kamera yang hebat untuk menghasilkan gambar yang hebat. Ini tidak benar, percayalah. Mereka berfikir bahawa apabila mereka menaik taraf kamera mereka ke sistem dan teknologi yang terkini, kualiti akan meningkat. Ini tidak benar, ia bermula dari fikiran yang memberitahu sebab gambar anda tidak hebat adalah kerana kamera anda tidak cukup baik. Ia berlaku kepada semua orang termasuk saya sendiri, apabila saya tidak berpuas hati dengan foto yang dihasilkan, saya selalu merasakan bahawa membeli kamera baru akan memberi inspirasi dan dapat menghasilkan foto yang  hebat. Secara fakta, ia tidak pernah berlaku.

Satu hal yang selalu Anda ingat di jalanan?

Apa yang ada di hadapan mata, telah tersedia. Tunggu dan moment tersebut pasti ada.

Fotografer mana yang menginspirasi Anda?

Matt Stuart: Humor

Mark Cohen: Closeness dan keunikkan style yang tersendiri

Siegfried Hansen: Gafik dan keunikkan style yang tersendiri

Alex Webb: Kesempurnaan

Martin Parr: Sosial kritik, humor dan irony)

Tavepong, Komposisi dan misteri

Vineet Vohra: Layering

Jesse Marlow: Lively

Pau Buscato Juxtaposition dan kreatviti

HCB: Komposisi dan klasik

Saul Leiter: Warna dan abstrak

dan banyak lagi

Buku favorit anda tentang fotografi?

Street Photography Now dan 100 Great Street Photographs

 

© Aizad Fadzli

© Aizad Fadzli

 

Bagaimana menurut Anda teknologi mengilhami kreativitas dalam fotografi?

Salah satu faktor yang memainkan peranan signifikan di dalam perkembangan kreativiti Street Photography adalah peranan penyampaian teknologi maklumat iaitu media sosial. Kewujudan platform media sosial seperti Facebook, Instagram dan yang lain-lain ini  memudahkan perkongsian dan mempercepatkan proses perkongsian di antara penggiat Street Photography. Media sosial menyediakan ciri praktikal yang menyokong proses komunikasi dan memudahkan penggiat Street Photography untuk berinteraksi, berkolaborasi, perkongsian dan berkomunikasi secara langsung di antara satu sama lain.

Pencapaian apa yang telah Anda dapatkan selama karier Anda dalam fotografi?

Pencapaian yang terbaru adalah tersenarai sebagai Finalist SPi (Street photography International) Street Awards 2018, Finalist StreetFoto San Francisco Festival 2018 dan Editors Pick Lensculture Exposure Awards for Single Image, Editor Pick’s, 2018.

Ada tips untuk fotografer jalanan di luar sana?

Pelajari asas-asas fotografi dan kembangkan kemahiran memerhati anda. Ini boleh diperoleh dengan melihat foto dari curated group di flickr, collective. Keluar, hasilkan lebih banyak foto, jangan takut untuk melakukan kesilapan, nikmati setiap saat apabila anda keluar bersama dengan kamera anda. Yang paling penting adalah mengasilkan foto untuk diri anda sendiri dan bukannya untuk orang lain. Jangan biarkan penghargaan atau kritikan mengganggu matlamat anda.

Website : http://www.ispcollective.com

www.instagram.com/aizadfadzli/

Artikel, Interview, Street photography,

Photographer Interview : Fahmy Afryan

Silahkan perkenalkan diri anda?
Assalammualaikum, halo perkenalkan nama saya Fahmy Hifny Afryan biasa dipanggil fahmy/efrik (Panggilan sejak kecil ), saya tinggal di  Bawen, Kabupaten Semarang.
Sejak kapan anda mulai mengenal dunia fotografi? dan sudah berapa lama anda menggeluti dunia fotografi ?
Saya suka dengan dunia fotografi semenjak duduk di bangku SMP, cuman dulu masih sebatas suka  saja. Sebatas melihat orang motret saja dan menikmati hasil foto teman, belum benar-benar tau secara rinci apa itu fotografi. Mulai duduk di bangku SMA baru mencoba-coba motret itupun masih menggunakan kamera film.
Kalau tidak salah waktu itu menggunakan kamera fujifilm entah lupa tipenya, cuman sampai sekarang masih ada barangnya, Ketika beranjak ke jenjang perkuliahaan, barulah saya belajar betul apa itu fotografi dari salah seorang teman, itupun masih dasar dan saya belajar sendiri secara otodidak. Memasuki semester akhir mulai memahami sedikit-sedikit apa itu fotografi dan Saya masih merasa perlu banyak belajar tentang pemahaman-pemahaman di dunia fotografi.

© Fahmy Afryan

Kenapa memilih fotografi jalanan dan kenapa fotografi jalanan spesial bagi anda dan sejak kapan menggeluti fotografi jalanan?
Awalnya saya belum tahu apa itu fotografi jalanan, masih suka memotret model (meskipun teman sendiri), dokumenter, dan landscape, meskipun dengan kamera hasil meminjam hahaha.
Awal tahun 2016 baru dikenalkan oleh dua orang teman tentang foto jalanan, istilahnya Street Photography / foto jalanan.
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

Kami perhatikan karya-karya anda lebih banyak mengandalkan decisive moment atau moment puncak, Kenapa ?  
Alasan kenapa foto saya mengandalkan Decisive Moment, karena bagi saya hal itu adalah komposisi yang mudah untuk dipahami dalam konsep awal belajar tentang Street Photography, jadi masih mengandalkan foto yang apik, menarik, dan dapat dinikmati orang banyak. Namun setelah berada dititik jenuh dengan karya seperti itu akhirnya sekarang saya mencoba untuk belajar lagi lebih dalam, apa itu Fotografi Jalanan. Apa yang seharusnya diangkat dari jalanan itu sendiri, serta bagaimana bisa membawa emosi kedalam foto yang saya ciptakan, sehingga bisa dijadikan kenangan bagi diri sendiri dan menjadi memory tersendiri bagi orang lain.
Sehiingga, untuk saat ini saya berusaha untuk banyak belajar dan mencoba mengekspresikan tatanan public didaerah saya dengan pendekatan dan sudut pandang saya pribadi.
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

Siapa fotografer yang menginspirasi karya-karya anda ?
Banyak, contohnya Fotografer Magnum. Mereka sangat cocok untuk dijadikan referensi dalam proses belajar.
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

Apa buku foto favorit anda?
Banyak juga, namun sekarang saya lebih tertarik dengan buku foto karya Norris Webb serta Trent Parke. bagi saya karya meraka menarik untuk dipadukan.
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

 

Prestasi apa saja yang sudah anda raih selama menggeluti dunia fotografi?
Bicara tentang prestasi, banyak foto-foto saya yang dipublikasikan di berbagai akun Fotografi Jalanan akun-akun media sosial dan Alhamdulillah tahun 2016 menjadi juara 2 pada event JSPI (Jambore Street Photography Indonesia) serta tahun 2017 meraih Gold Medal pada event Salon Foto Indonesia (SFI).
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

 

Bagaimana menurut anda perkembangan fotografi di Indonesia khusunya fotografi jalanan? 
Fotografi jalanan di Indonesia semakin berkembang dan semakin diterima oleh masyarakat dan sampai saat ini penggiat fotografi jalanan di Indonesia semakin kesini semakin banyak. Lanjutkan !!
© Fahmy Afryan

© Fahmy Afryan

Adakah beberapa patah kata untuk penggiat fotografi jalanan di indonesia? dan apa harapan anda untuk seni fotografi di Indonesia khusunya fotografi jalanan?
Teruslah belajar dan berkembang serta tampilkan identitas Indonesia dalam foto jalannamu, tunjukkan kalau Street Photography di Indonesia tidak kalah menarik dengan Street Photography diluar negeri.
Artikel, Interview, Street photography,

Photographer Interview : Dewangga

Silahkan perkenalkan diri anda?

Terimakasih atas kesempatannya. Sebelumnya perkenalkan nama saya Dewangga Ewang Jasa Rahardian, saya bekerja di rumah makan Jepang milik kakak saya di Yogyakarta.

Sejak kapan anda mulai mengenal dunia fotografi? dan sudah berapa lama anda menggeluti dunia fotografi ?

Saya mengenal fotografi sejak tahun 2015 akhir, namun mulai serius mendalaminya mulai 2016. Sudah 3 tahun saya menggeluti hobi saya ini.

© Dewangga

© Dewangga

 

Kenapa memilih fotografi jalanan dan kenapa fotografi jalanan spesial bagi anda dan sejak kapan menggeluti fotografi jalanan?

Hmm… Pada awalnya saya cuma iseng-iseng mencoba dan hanya ikut-ikutan teman, namun lama-lama saya ketagihan mendalami fotografi jalanan karena pada dasarnya saya memang suka mengamati dinamika dan kegiatan orang-orang di ruang publik, sehingga hal itu membuat saya lebih peka menangkap fenomena di jalanan untuk dijadikan saksi dan bukti perkembangan kota tempat saya tinggal, yaitu Yogyakarta. Saya mendalami fotografi jalanan sejak pertengahan 2016. Pokoknya, fotografi jalanan itu asyik broh!.

Kami perhatikan karya-karya anda lebih banyak mengandalkan decisive moment atau moment puncak, bagaimana menurut anda ?  

Menurut saya, memang moment puncak atau decisive moment itu seperti kita memakan sebuah bakso yang berisi cabai, tidak selalu terlihat enak dan mulus namun ada kejutan saat kita nikmati.
© Dewangga

© Dewangga

 

Kami lihat anda juga membuat akun lain selain akun instagram utama anda @aggnawed, dan disitu kami dapati foto-foto selain fotografi jalanan, apakah anda sedang observasi atau sedang ada hal lain yang membuat anda ingin mencoba jenis fotografi lain? 
Saya memang memiliki beberapa akun lain, ada yang untuk mengikuti beberapa kontes foto di Instagram hingga ada akun yang akan saya siapkan untuk beberapa projek saya, karena saya ingin lebih mengembangkan fotografi saya.
Siapa fotografer yang menginspirasi karya-karya anda ?
Hingga saat ini karya-karya dari Tavepoong, Vneet Vohra, Chris Tuarissa, dan om Sambara, selalu membuat saya merinding, namun kalau untuk inspirasi, saya bisa mendapatkannya dari mana saja termasuk dari karya teman-teman semua.

 

© Dewangga

© Dewangga

 

Apa buku foto favorit anda?
Buku foto favorit saya “Unpublished” dari Kompas. Dan beberapa buku foto dari jurnalis Antara.
Prestasi apa saja yang sudah anda raih selama menggeluti dunia fotografi?
Prestasi saya yang paling berkesan saat mendapat medali dari kontes bulanan Hipa yang saat itu bertema “Children”, dan ada beberapa kontes foto lokal yang pernah saya menangkan.

 

© Dewangga

© Dewangga

 

Bagaimana menurut anda perkembangan fotografi di Indonesia khusunya fotografi jalanan?
Fotografi jalanan Indonesia bisa dibilang berkembang sangat pesat, hal itu dapat dilihat dari perbandingan jumlah fotografer jalanan yang saat ini semakin bertambah banyak dibandingkan awal-awal ketika saya belajar fotografi dahulu.
© Dewangga

© Dewangga

 

 

 

Adakah beberapa patah kata untuk penggiat fotografi jalanan di indonesia? dan apa harapan anda untuk seni fotografi di Indonesia khusunya fotografi jalanan?
Pesan saya, jangan cepat bosan dengan fotografi jalanan. Karena beda waktu, selalu beda moment di ruang publik, dan belajarlah untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Jangan hanya demi sebuah foto yang bagus dan indah kita sampai melupakan norma kesopanan, dan teruslah belajar, jangan terlalu mudah puas dengan karya yang penuh pujian, karena pujian adalah racun yg menghambat jika kita terlalu terlena dan tidak menjadikanya sebagai motivasi untuk berkembang.
Harapan saya fotografer Jalanan di Indonesia terus berkembang hingga masuk beberapa ajang bergengsi seperti Miami Street Photography Festival, dan saya harap banyak fotografer jalanan Indonesia bisa bmembuat pameran atau workshop di luar negeri.
© Dewangga

© Dewangga

instagram : @aggnawed

Artikel, Street photography,

Belajar Komposisi Golden Mean Dari Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson adalah seorang fotografer asal Prancis yang telah diakui menjadi bapak jurnalisme foto modern. Dia adalah pengadopsi awal 35 mm format dan master candid photography. Ia membantu mengembangkan “Street Photography” atau “real life reportage” yang telah banyak mempengaruhi generasi fotografer setelahnya.

Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson

Geometri & Komposisi

Fokus utama dari karya Henry Cartier Bresson adalah geometri, itu adalah hal yang utama dan terpenting baginya.
Jika kita amati dengan seksama karya-karya beliau selalu berdasar pada Golden Mean dan Golden Proportion.

Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik. Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman yunani kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third. Prinsipnya panduan kompoisi ini hampir sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% kearah tengah. Pada teorinya golden mean ini bisa digunakan pada semua scene foto termasuk fotografi jalanan, tapi pada prakteknya lebih mudah diaplikasikan pada foto portrait formal/klasik. Selain itu, golden mean bertujuan untuk menciptakan sebuah foto visual yang menarik, yakni sesuatu yang dapat menangkap perhatian orang dan menceritakan kisah di balik foto itu. Trik dari fotografer adalah untuk mengatur unsur-unsur untuk memungkinkan foto tersebut untuk menceritakan kisah yang ingin diberitahu. Memang benar bahwa sebuah foto bernilai seribu kata dan fotografer adalah orang-orang yang menulis mereka.

Dengan Mempelajari karya foto Henry Cartier Bresson, kami semakin menyadari bahwa semua yang akan di foto oleh beliau memiliki  irama dan proporsi yang tinggi.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, kami akan menunjukkan beberapa fotonya dengan menambahkan layer
Golden Mean pada foto Henry Cartier Bresson untuk memberi  gambaran yang lebih baik tentang bagaimana dia selalu mengaplikasikan Golden Mean pada karya-karyanya.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Pada gambar di atas, Anda akan melihat bagaimana subjek dan geometri lingkungan dikomposisikan pada foto tersebut. Henri sering mengatakan “you must sense it, quick!.”

Keseluruhan gagasan tentang Golden Proportion didasarkan pada kenyataan bahwa mata Anda
harus mengalir melalui foto. Ini adalah tindakan bawah sadar, bahwa perlu banyak latihan dan jam terbang agar mata kita terbiasa mengkomposisikan sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan.

Segala sesuatu tidak kekal, tidak pernah abadi, dalam perubahan konstan.
– Henry Cartier Bresson –
© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

“Kombinasikan gerak subjek dan kesenangan komposisi”
“Cobalah untuk mengambil gambar yang mengkonkret segalanya dan memiliki hubungan bentuk yang sangat kuat.”

Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Perhatikan foto-foto di atas mata anda akan digiring dari satu point utama ke point yang lain. Sekilas, ini bisa dilihat sebagai foto yang crowded dengan berbagi element dan subject, tapi tanpa anda sadari mata anda akan tergiring dan mengalir begitu saja ketika melihat foto tersebut.

Satu hal yang sangat penting untuk di ingat adalah titik fokus foto Anda tidak selalu harus menjadi dead center.
Dengan demikian, Anda menciptakan simetri yang sering membayangi sisa komposisi yang lain dalam foto anda. Asimetri menciptakan dinamika dan memungkinkan viewers melihat konteks dari suatu foto.

Sama halnya saat anda mengetik di keyboard, Anda harus merasakan di mana huruf-hurufnya untuk membuat kata / frase / kalimat. Begitu juga dengan komposisi, Anda harus merasakannya dan terkadang perlu untuk sedikit menunggu untuk menentukan komposisi yang tepat sebelum menekan tombol shutter.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Citra yang tersusun rapi tidak akan banyak jika tidak ada cerita bagus di belakangnya Setiap kali saya menemukan foto Henry Cartier Bresson, Kami langsung terpikat dengan mata seismiknya. Dia tidak hanya bisa menangkap komposisi hebat tapi juga membangkitkan momen kuat dalam sepersekian detik. Tujuan sebuah foto adalah untuk membangkitkan perasaan, menangkap sejenak dan menceritakan sesuatu. Pepatah mengatakan “gambar bernilai 1000 kata.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Ada kegembiraan besar dalam seni fotografi jalanan. Komposisi runtuh menjadi satu tangkapan tunggal. Semua iindera Anda langsung mengajukan pertanyaan besar. Ini
tempat di mana pemahaman Anda tentang geometri, ringan, dan bahasa tubuh akhirnya ditantang.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Bila Anda mengamati reaksi orang-orang di lingkungan Anda, Maka Anda akan selalu menemukan “Determining Moment”. Henri biasa mengatakan bahwa pandangan pertama sangat penting. Pandangan pertama menentukan apakah penangkapan Anda akan bagus atau tidak.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Selalu ada moment berupa gerakan tubuh subject yang lebih menarik dari yang lain, entah itu sebuah bayangan, langkah kaki atau Silhouette. Fotografi tidak terlalu banyak memakan otak, yang paling dibutuhkan adalah kepekaan. Sebuah kamera hanyalah perpanjangan mata Anda. Sayangnya, kepekaan terhadap moment sulit untuk dijelaskan, Anda harus merasakannya dengan segenap indra Anda sekaligus.

Siapa saja bisa mendapatkan 10 foto bagus dalam hidup mereka, tapi konsisten untuk tetap mendapatkan foto yang bagus berulang-ulang itulah yang menjadi rahasia sebenarnya.

 

 

 

Refrensi :

Wikipedia.com – Golden Mean

Duapfatografi – Golden Mean

 

 

Artikel, Interview, Street photography,

Street Photographer Interview : Baskara Puraga

Sebelumnya silahkan perkenalkan diri anda ?

Perkenalkan nama saya baskara Puraga Somantri, biasa dipanggil Aga. Sehari-hari saya bekerja sebagai Sound Engineer. Dan fotografi biasanya menjadi pengisi waktu disaat luang meskipun kadang-kadang kebablasan juga dengan yang namnya fotografi ini.

Sejak Kapan anda mendalami fotografi?

Saya memiliki kamera pertama di sekitar tahun 2008-2009, tepatnya saya kurang ingat, yang jelas waktu itu diberi oleh kakak saya, DSLR Nikon D90. Namun mulai mendalami fotografi tahun 2012 semenjak menemukan analog bekas Bapak saya di rumah

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

 

Jika kami lihat karya-karya anda lebih ke street photography, bisakah memberikan sedikit argument tentang karya-karya anda?

Saya kurang paham juga jika dikategorikan, memang kebanyakan foto saya lakukan di jalanan dan di ruang publik, meski sesekali memotret di ruang privat. Medium fotografi untuk saya pribadi sangat cocok untuk menggali “diri” lebih jauh, mencari jawaban-jawaban dari banyak pertanyaan yang ada di kepala saya, dan bagaimana menyampaikannya ke publik yang lebih luas.

Siapa fotografer yang sangat menginspirasi karya-karya anda ?

Daido Moriyama, Nobuyoshi Araki, Klavdij Sluban, Arthur Bondar, Mario Giacomelli, Sergio Larrain, dan masih banyak lagi hahahaha…

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Selain aktif mengunggah karya-karya anda di media sosial anda juga produktif membuat photozine , apa sebenarnya  photozine itu?
Photozine menurut saya adalah versi “ringkas” jika dibandingkan dengan photobook. Photozine adalah salah satu penyaluran hasrat berkarya saya dan beberapa teman lainya untuk membuat sesuatu yang sifatnya fisik, Karena selalu ada perasaan berbeda saat menikmati karya dalam bentuk fisik.
Berapa photozine yang sudah anda buat, dan bisakah sebutkan judul dan sedikit sinopsis dari karya-karya tersebut?

Pseudo mind, A Momentary Lapse of (t) Reason, When The Sun Don’t Shine, dan Avaritia. Cukup panjang jika dibahas satu-satu, yang jelas kesamaan dari karya ini biasanya berupa kegelisahan pribadi akan pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di kepala saya sendiri, rasa sepi dan rindu, dan bagaimana saya sebagai “pengamat” dalam hiruk pikuk dunia perkotaan dan kesehariannya.

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Yang kami ketahui anda adalah member dari fotoemperan, bisakah ceritakan apa fotoemperan itu dan siapa founder dari fotoemperan ?

Fotoemperan adlah group kolektif fotografer, yang sampai saat ini masih sering berkumpul dan ngopi bareng. Kita belajar, Saling mengisi, dan tumbuh bersama sambil terus melakukan eksperimen, pembelajaran, pameran, dan hal lainya.

Apa visi dan misi kedepanya dari fotoemperan?

 

Fotoemperan ingin terus hadir di dunia fotografi, khusunya di indonesia untuk terus berkarya, bersilaturahmi, dan saling belajar dari teman-teman lainya yang juga menggunakan fotografi sebagai medium-nya.

Dan untuk founder nya yang jelas tidak satu, beberapa diantaranya adalah Tomi Saputra, Agung Rahmat Umbara, Ariq Rahadian, Arifan Sudaryanto, dll.

Menurut anda kriteria foto street yang bagus itu yang bagaimana?

Pertanyanya susah menjawabnya, yang jelas saya menyukai semua foto apapun yang memiliki kedalaman makna dan menimbulkan pertanyaan setelah melihatnya.

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Selama anda mendalami fotografi, apa saja prestasi dan penghargaan yang sudah pernah anda dapatkan?
Saya kurang aktif dalam mencari penghargaan tampaknya hahaha, paling beberapa kali melakukan pameran, dan pernah juga karyanya di pamerkan di Vietnam, Malaysia, dan Jakarta. Selebihnya saya lebih tertarik belajar, Saya pernah mengikuti workshop yang di adakan Pannafoto institute dan Workshop fotografi bersama Klavdij Sluban.
Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?
Selalu perhatikan detail, cobalah memotret layaknya anak kecil yang diberi kamera, tidak usah terlalu dipikirkan ingin membuat foto seperti apa, lebih mengalir dan jujur saja
 Instagram: @agareds – www.baskarapuraga.com 
 
Artikel, expressionism photography, Interview, Street photography,

Expressionism Photographer Interview : Agan Dayat

Muhammad Hidayat atau sering di panggil agan dayat adalah fotografer kelahiran Manado Sulawesi Utara. Beliau adalah salah satu fotografer fine art dan expressionism fotografi disamping street photography. Karya-karya nya juga sudah banyak di akui secara international diantaranya World street photograpy, kujaja dan street hunter. Beliau adalah ketua sekaligus pelopor komunitas Atjeh Street Project.

Silahkan perkenalkan diri mas dayat ?

Hai, Saya Hidayat tapi lebih sering di panggil dengan sebutan Agan, kalau mau dipikir tidak ada hubungannya dengan nama saya sendiri, tetapi yaa biarkan sajalah. Saya lahir 2 Januari 1982 di Manado Sulawesi Utara tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di Makassar dan Jakarta dan sekarang saya berdomisili di Banda Aceh dan bekerja sebagai staf di bangian Keuangan pada salah satu Instansi Pemerintahan. Memiliki seorang Putri yang cantik yang sekarang berusia 2,5 tahun hehehe.

Sejak kapan mas dayat mulai mendalami fotografi?

Mengetahui fotografi kalau tidak salah sejak tahun 2009 saya sudah memiliki ketertarikan di bidang fotografi  tetapi baru sekedar merasa tertarik dan sesekali meminjam kamera teman untuk mencobanya karena pada saat itu kamera Digital merupakan barang yang sangat mahal buat saya. Pada awal tahun 2015 saya mulai bisa dikatakan serius dan memiliki minat yang tinggi terhadap fotografi dan mulai mendalami apa itu Seni Fotografi dan sangat tertarik dengan fine art dan expressionism fotografi.

Expressionism Photography © Agan Dayat

 

Disamping mendalami fine art dan expressionism fotografi mas dayat juga mendalami street fotografi ya mas , menurut mas dayat street fotografi itu apa sih mas ?

Kalo boleh jujur saya mulai menyukai street fotografi baru belakangan ini, dan hingga saat ini cukup tertarik dengan street photography bisa dikatakan seperti itu.  Karena buat saya street photography merupakan sebuah tantangan dan kejujuran serta apa adanya, kalau saya katakan street photography itu tidak mahal (tidak memerlukan peralatan yang mahal) dalam hal ini menggunakan kamera smartphone pun bisa menghasilkan foto yang bagus, tetapi bukan juga murahan. Nah disinilah saya melihat bahwa street photography sangat menarik, dimana kita bisa mendapatkan sebuah foto yang menarik dengan kecepatan serta spontanitas. Kalau menurut saya secara pribadi street photography itu melatih saya untuk lebih jelih, lebih pekah dengan keadaan dan lebih pinter dalam melihat situasi dan menjadikannya dalam sebuah foto.

Siapa fotografer yang sangat menginspirasi karya-karya mas dayat ?

Saya merupakan salah satu orang yang baru mendalami fotografi dan bisa dikatakan sangat minim dengan referensi fotografer. Bahkan sejak memulai serius dengan fotografi baru di tahun kedua saya mulai mengetahui ada beberapa fotografer yang akhirnya menginspirasi saya hingga saat ini. Saya suka dengan Antoine D’Agata beliau merupakan salah satu fotografer yang kontroversial tetapi karya-karya beliau kuat dan sangat menginpirasi saya, beberapa pemaknaan dan pandangan beliau terhadap fotografi sangat saya sukai. Jacob Aue Sobol juga merupakan fotografer inspirasi buat saya, sejak pertama saya melihat beberapa karya-karyanya yang emosional dan memiliki karakter yang kuat serta BW yang pekat seperti ada koneksi dengan saya karena saya juga tertarik dengan foto-foto seperti beliau. Beberapa fotografer seperti  Trent parke, Michael Akerman, Rinko Kawauchi, Shorab Hura, Stavros Stamatiou, Nan Golding, Roger Ballen, Daido moriyama, Nobuyoshi Araki saya sering menghabiskan beberapa waktu khusus untuk melihat foto-foto mereka dan membaca profil serta mencatat beberapa pandangan mereka tentang fotografi dan pemaknaan mereka terhadap foto. Tidak bisa dipungkiri juga teman-teman Fotoemperan teman ISP juga banyak memberi dampak terhadap perjalanan saya mengenal dan mendalami fotografi. Om chris Tuarissa dan om Sam lah yang membuat saya mengetahui pendekatan street photography itu seperti apa heheh. Mas Aji susanto Anom juga merupakan salah satu fotografi panutan saya, dan bisa dikatakan beberapa karya-karya beliau sangat mempengaruhi saya, hemnn…  sepertinya sangat banyak dan masih sangat banyak hahahha.

Apa sih perbedaan dari street photography dan expressionism atau personal photography mas?

Hemn.. Buat saya ini pertanyaan yang sederhana tapi merupakan pertanyaan yang sangat sulit buat saya, semoga saya bisa menjawab.

Berbicara perbedaan antara street photography dengan personal photography menurut saya perbedaannya lebih kepada pendekatannya. Kalau street photography seperti yang sudah saya jawab di pertanyaan sebelumnya. Menurut saya berbicara tentang personal photography berarti penekanannya dan penyampaiannya lebih bersifat sangat pribadi karena berbicara personal, visual yang ditampilkan atau disampaikan juga lebih subjektif dan bersifat personal,  kita bisa menceritakan tentang apa saja baik itu pengalaman secara pribadi, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya. Dalam personal photography tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya secara konseptual dan ini pastinya bertolak belakang dengan street photography yang tidak boleh di konsep atau diarahkan. Street photography juga terkadang bisa sangat subjektif, karena apakah ada bener-benar foto yang objektif ? itu tergantung dari penikmat foto yang dapat melihatnya. Karena setiap foto pasti memiliki emosi baik itu foto yang bagus dan tidak bagus menurut penikmat foto yang menikmatinya dan semua memiliki emosi yang lahir dari si pemotret. Disini saya mengambil contoh dari diri saya sendiri dan pengalaman saya sendiri atau pemikiran saya sendiri. Buat saya street photograpy melatih saya untuk lebih pekah terhadap keadaan pada saat berada diruang publik, melatih kejelian dan kepinteran dalam merekam sebuah kejadian yang ada, Tetapi buat saya mengerjakan personal photography atau personal project lebih dari dari itu sangat melibatkan perasaan, melibatkan emosi yang dalam bahkan berimajinasi. Semoga bisa menjawab.

Dari informasi yang kami dapatkan mas dayat ketua sekaligus pelopor dari atjeh street project ya mas jika berkenan boleh mas sedikit ceritakan apa itu aceh street project mas?

ASP atau Atjeh street project merupakan sebuah komunitas yang berfokus pada street photography dan lebih menjadi wadah dan informasi terkait street photography khususnya di Daerah Aceh dimana saya berada saat ini. Karena di Aceh sendiri ada banyak komunitas fotografi tetapi ASP mungkin bisa dikatakan komunitas atau wadah yang pertama yang berfokus pada street photography.

Apa visi dan misi dari atjeh street project mas,dan mungkin bisa di ceritakan sedikit kisah yang melatar belakangi terbentuknya atjech street mas?

Seperti yang saya katakana tadi, di Aceh sendiri sangat banyak komunitas fotografi, tetapi belum benar-benar ada satu kamunitas atau perkumpulan yang berfokus pada street photography, dengan pengamatan ini maka ASP lahir dan hadir untuk memperkenalkan pendekatan street photography dan menjadi wadah Informasi tentang Street Photrography. Bagaimana ASP bisa memperkenalkan Aceh melalui pendekatan Street Photography.

Bagaimana menurut mas dayat perkembangan street photography di indonesia mas ?

Untuk Pertanyaan ini sepertinya saya belum berani untuk memberikan Jawaban. Hahahhaha. Yang pasti yang saya tau dan lihat sangat berkembang, ya itu saja !

Menurut mas dayat kriteria foto street atau personal fotografi yang bagus itu yang bagaimana mas?

Kemarin saya baru berbincang-bincang dengan Mas Aga (Baskara Puraga @agareds ) dan beliau memberikan sebuah pertanyaan yang membuat saya kembali berfikir, kira kira seperti ini “menurut Om Agan mana foto bagus dan mana foto jujur “ ? jadi menurut saya foto yang bagus itu ya foto yang jujur, Apalagi berbicara personal fotografi ya foto-foto yang bisa menyampaikan kejujuran dan tidak banyak berfikirnya dan bisa mengetahui diri kita dalam foto tersebut. satu lagi perkataan Beliau bedakan antara bagaimana membuat sebuah foto dan mengambil sebuah foto. Nah, kalo ditanya kriteria setiap orang punya kriteria masing-masing baik itu street photo ataupun personal photo

Selama mas dayat mendalami fotografi, apa saja prestasi dan penghargaan yang sudah pernah mas dayat dapat kan mas ?

Kalo penghargaan dan prestasi siy bisa dikatakan belum ada, hanya beberapa nominasi dari beberapa situs seperti World street photograpy, kujaja dan street hunter.

Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?

Bukan tips tetapi lebih kepada pengalaman, banyak melihat, banyak membaca dan banyak memotret. Satu lagi tetap memotret dalam keadaan apapun yang sedang kita alami atau rasakan, karena bisa saja foto terbaik kita lahir dari keadaan saat itu.

Street Photography © Agan Dayat

 

 

Website dan Medis Sosial

www.agandayat.com

www.instagram.com/agandayat

www.instagram.com/agan_dayat

www.facebook.com/agandayat

Interview, Street photography,

Street Photographer Interview : Udatommo

Tomi Saputra atau akrab di panggil udatommo lahir di Lintau, provinsi Sumatera Barat pada 1 January 1990, pada masa kecilnya sangat berminat pada sastra, ketika memasuki Sekolah Menengah Atas mulai mengenal fotografi pada tahun 2005 seiring dengan populernya teknologi kamera VGA pada telepon seluler symbian saat itu. Mulai serius mempelajari fotografi ketika mengenyam pendidikan Desain Komunikasi Visual di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung pada tahun 2010.

Ia berhasil meraih penghargaan EyeEm Award 2016 / Finalist (Category : The Photojournalism) , karya yang terpilih pada event ini dipamerkan di Berlin, Jerman dan dibukukan pada buku tahunan event EyeEm Award 2016.

Sebelumnya silahkan perkenalkan diri uda, dan sedikit ceritakan tentang apa itu street photography dari sudut pandangan uda ?

Halo, perkenalkan nama saya Tomi Saputra lebih sering dipanggil Uda saja. Saat ini sedang menjadi desainer grafis untuk salah satu perusahaan swasta di kota Bandung dan sesekali juga mengambil jasa freelances fotografer maupun freelances desainer grafis.

Street photography menurut saya bagaikan puisi yang dirangkai dari kumpulan diksi di ruang publik, beragam cara penyampaiannya berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Mulai dari storytelling yang kuat mudah dimengerti, metafora yang mendalam bahkan syarat simbolis, atau foto-foto yang tidak bisa dimengerti dengan mudah, bahkan jika dilihat sepintas bagi sebagian orang ini hanyalah rangkaian kompisisi tanpa menyampaikan pesan tertentu.

Ini yang menjadi bagian menariknya menurut saya, setiap orang memiliki kebebasan merangkai diksi yang tepat sehingga menjadi kesatuan puisi yang sangat menarik untuk dinikmati. Bukan hanya tentang mendapatkan momen puncak, unik atau hal semacamnya. Menurut saya pandangan personal juga dibutuhkan sebagai modal dasar untuk mendapatkan hasil karya yang cukup berbeda. Sehingga beragam karya bermunculan dengan segala rupa kreativitasnya.

 © Udatommo

© Udatommo

Sejak kapan uda mulai mendalami fotografi ?

Saya menaruh minat besar pada fotografi mulai pada taun 2005/2006 ketika pertama kali melakukan pengambilan foto menggunakan kamera dari telepon seluler dengan teknologi kamera VGA, karena beberapa alasan kegiatan fotografi akhirnya terhenti. Kemudian pada tahun 2010 kebetulan mengeyam pendidikan Desain Komunikasi Visual di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung. Cinta lama yang bersemi kembali bersama fotografi kembali terpupuk seiring semakin bertambahnya ilmu yang didapat dari pendidikan di jurusan perkuliahan ini.

 © Udatommo

© Udatommo

Apakah uda hanya menggeluti street photography saja untuk saat ini? 

Untuk saat ini saya tidak terlalu mendisiplinkan diri pada suatu genre atau gaya pendekatan tertentu pada fotografi, karena dalam hemat saya ini bisa membatasi diri untuk menerima hal baru dan proses pembelajaran saya terhadap fotografi.

Bisakah sedikit ceritakan kenapa uda  tertarik dengan street photography ?

Jika alasan tertarik terhadap street photography karena ada tantangan yang tidak mudah, bagaimana bisa mendapatkan foto bagus tanpa adanya campur tangan untuk mengatur momen yang bakal mau difoto, semua terjadi sangat alami. Bercerita dengan spontan dari ruang publik dengan keterbatasan waktu pengambilan foto serta kompleksnya ruang lingkup kehidupan serta semua aspek yang ada.

 © Udatommo

© Udatommo

Siapakah street photographer yang menjadi inspirasi uda ?

Sangat banyak sekali yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya, tidak cukup untuk dituliskan satu-persatu. Di awal belajar saya tertarik dengan karya-karya Henri Cartier-Bresson, tentunya beliau sangat mencuri perhatian banyak orang.

Alex Webb juga sempat menginspirasi saya dengan karakter layeringnya yang begitu kuat, perlu waktu lama bagi saya untuk bisa memahami dan belajar teknik ini.

© Udatommo

Vivian Maier juga saya suka, karyanya sangat kompleks serta latar belakang pekerjaan yang seakan jauh dari gambaran seorang seniman besar. Vivian Maier membuktikan bahwa siapapun bisa menghasilkan karya hebat jika dibarengi dengan dedikasi yang sepenuh hati.

© Udatommo

Joel Meyerowitz, menurut saya Joel orang jenius yang rendah hati. Punya pemikiran menarik tentang street photography. Karya Joel juga terlihat sangat kuat akan respon jalanan yang direkam, beragam hal diceritakan pada satu frame, bukan hanya suatu rutinitas berulang yang begitu membosankan.

Martin Parr, saya sangat tertarik pada project Last Resort. Suatu pemandangan berbeda dari suasana liburan yang ada pada gambaran orang kebanyakan. Dari sini saya lihat Martin Parr sangat peka terhadap situasi-situasi yang tidak lazim atau ironi pada kehidupan keseharian manusia. Karyanya cukup kritis tapi tidak terlalu sarkas, saya rasa tidak bakal mudah mendapatkan foto-foto menarik dengan gaya Martin Parr karena memotret pada suasana keramaian cukup sulit, apalagi dengan beragam pesan akan pemikiran kritis yang dituangkan.

Daido Moriyama, alasan pertama terinspirasi karena BW (read : Black and White) nya hahaha. Terlepas dari BW menurut saya Daido cukup acuh terhadap teknis-teknis baku pada fotografi, sehingga karyanya menjadi terlihat liar dan tidak mudah dipahami atau bahkan ditiru. Salut untuk idealisme dan determinasi yang sangat kuat bahkan sampai saat ini.

 

© Udatommo

© Udatommo

Di Indonesia saya terinspirasi oleh om Sam Bara dan om Chris Tuarissa. Dua orang ini punya karakter yang berbeda, saling mengisi dan tidak pelit dalam berbagi. Om Sam Bara memotivasi untuk selalu berkarya, om Chris Tuarissa berbagi dalam banyak hal bahkan kerendahan hati. Semoga beliau berdua sehat selalu dan tetap saling berbagi inspirasi.

Fotoemperan, menjelang akhir 2015 saya dipertemukan dengan orang-orang hebat ini. Rasa syukur yang amat mendalam karena bisa belajar, berkarya, membuat beragam event bersama-sama. Fotoemperan menjadi forum pertama bagi saya untuk selalu bersemangat berkarya dan berinovasi. Semoga Fotoemperan kompak selalu!!

Semua kawan di media sosial para pegiat street photography juga menjadi inspirasi tanpa henti. Tim MaklumFoto, Instastreetid, Indonesia Street Project, Indonesia On The Street. Aaaaah dan masih banyak lagi. Sepertinya saya murahan mudah terinspirasi dari banyak orang kwkwkkw

Jika di perhatikan karya-karya uda cenderung surealis dan lebih mengacu pada penggabungan antara street photography dengan fine art photography? bagaimana pendapat uda tentang hal itu?

Mengenai surealis awalnya saya tertarik ketika pertama kali dikenalkan dengan karya Salvador Dali oleh dosen yang mengajar pada mata kuliah Ilustrasi. Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, karena bagi saya melakukan segala segala sesuatu dengan teratur itu begitu membosankan, membelenggu ide dari imajinasi yang bagi sebagian orang belum tentu bisa dimengerti. Terbukti ketika menggambar secara realis saya sangat tidak cukup bagus, mengenal konsep surealis membuat saya bersemangat untuk menuangkan hal-hal yang saya simpan pada ruang yang tidak mudah dimengerti tersebut.

Fine art photography? Saya tidak begitu mengharuskan untuk menjadi apa suatu karya nantinya ketika melalui proses penciptaan karya tersebut. Yang terpenting sangat menikmati prosesnya, jadi diri sendiri dan tidak mengejar berkarya untuk memuaskan orang lain. Apakah itu ketika pada pendekatan fotografi lainnya. So, apakah ini yang akhirnya orang mengatakan karya saya penggabungan surealis, street photography dan fine art photography. Saya tidak begitu mempedulikan hal tersebut. Hanya kebetulan saja beberapa tahun terakhir saya cukup banyak berkarya dengan pendekatan street photography

© Udatommo

Menurut uda kriteria seperti apa sajakah suatu foto street photography itu di katakan bagus ?

Bagi saya semua karya seni apapun itu tetaplah sama, hanya berbeda medium penyampaian pesan belaka. Karya yang baik itu bisa membuat orang ingin menikmati lebih lama meskipun tidak begitu mengerti.

Pada street photography tentunya bukan hanya mengejar momen puncak yang dianggap langka dan terkesan wah, tapi ada kandungan ‘sesuatu’ yang lebih mendalam untuk memberikan kenikmatan pada klimaks puncak yang tidak mudah terlupakan.

© Udatommo

Bagaimana pendapat uda tentang perkembangan street photography di indonesia ?

Belakangan saya lihat cukup bagus, banyak forum diskusi offline maupun online. Sayangnya masih mengutamakan kegiatan hunting foto bersama dibandingkan memperbanyak kegiatan diskusi. Masih harus banyak melihat referensi dari beragam sumber, sehingga tidak hanya mengejar apa yang terlihat bagus secara terlihat untuk mengejar banyak pujian saja.

Faktanya kita cukup ketinggalan dari Thailand, masih jarang nama-nama pelaku street photography Indonesia diajang kompetisi internasional. Namun tahun 2017 nama street photographers Indonesia mulai bermunculan dikancah International.

 

© Udatommo

© Udatommo

 

Jika boleh tahu, saat ini uda aktif dalam kegiatan atau forum street apa saja ?

Saat ini masih aktif sebagai admin di MaklumFoto meskipun belakangan kita kurang ada kegiatan. Menjadi pengurus di Indonesia Street Project pusat maupun di regional Jabar. Dan tentunya aktif bersama Fotoemperan.

Bagaimana pendapat uda jika ada yang mengatakan uda termasuk salah satu tokoh penggerak street di indonesia yang berpengaruh ?

Sangat berlebihan sekali, saya tidak merasa melakukan suatu hal besar dalam bentuk apapun. Hanya suka berbagi dengan sedikit ilmu yang dipelajari. Masih banyak orang yang berhak disematkan panggilan ‘tokoh’ tersebut. Saya masih bukanlah siapa-siapa. Baru belajar untuk berkarya pada jalur ini.

Saya merasa tidak layak

© Udatommo

Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?

Selalu jadi anak kecil yang tidak tahu banyak hal, mudah tertarik akan hal baru sehingga melakukan apapun menjadi menyenangkan. Ignorance is bliss!

Kosongkan gelas kapanpun, dimana pun berada jika masih ingin menimba ilmu.

Rajin membaca dan jangan malas untuk browsing segala informasi.

Apapun itu teorinya, yang paling penting adalah banyak memotret. Praktek akan selalu menjadi pelajaran terbaik!

 © Udatommo

© Udatommo

 

Prestasi dan penghargaan 

Street Hunter.net The July 2017 Street Photography Contest Nominees

Nominated World Street Photography Photobook 5 (2017/2018)

Street Hunter.net The May 2017 Street Photography Contest Nominees

Nominated World Street Photography Photobook 4 (2016/2017)

Nominated World Street Photography Photobook 3 (2015/2016)

 

Website & Media Social

Website :

https://udatommo.com/

Instagram :

https://www.instagram.com/udatommo/

https://www.instagram.com/ud4tommo/

https://www.instagram.com/fnd.it/

Flickr :

https://www.flickr.com/photos/udatommo/

 

EyeEm :

https://www.eyeem.com/u/udatommo

 

Artikel, Interview, Street photography,

Street Photographer Interview : Chris Tuarissa

Profil Singkat

Chris tuarissa adalah salah satu street photographer indonesia yang karya-karya nya sudah diakui baik sekala nasional maupun internasional. Beliau juga founder dari Maklumfoto. apasih maklumfoto itu dan seperti apakah di balik sosok chrisstuarissa itu? mari kita cari tahu jawabanya pada interview exclusive dengan beliau di bawah ini.

Sebelumnya silahkan perkenalkan diri om, dan sedikit ceritakan tentang apa itu street photography atau fotografi jalanan menurut om chris?

Saya Chris Tuarissa. Ayah dari 3 anak. Berdomisili di Jakarta. Pemotret dan penikmat foto, kopi dan pisang goreng. Street Photography. Saya rasa setiap penggiatnya akan punya argumennya sendiri tentang definisi Street Photography. Bagi saya, Street Photography adalah bagaimana cara saya mengamati dan mengeksplorasi aktifitas diruang publik. Dan merekam emosi disetiap kejadiannya dengan medium kamera.

 © Chris Tuarissa

© Chris Tuarissa

Sejak kapan sudah mulai mendalami fotografi?

Sepertinya sih sejak saya kuliah di Universitas Trisakti tahun 1989. Ketika mata kuliah fotografi memang menjadi salah satu yang diwajibkan pada jurusan yang saya ambil,yaitu desain grafis. Kalau sekarang Desain Komunikasi Visual. Saat itu lebih mengarah ke Commercial Photography.

Kenapa om chris memilih street photography?

Saya penyuka foto foto socio documentary, dan Street Photography menjadi sesuatu yang menarik perhatian saya. Ada kejujuran, kejutan dan hal tak terduga yang  terjadi di Ruang Publik. Dan Street Photography memberikan saya kesempatan untuk merekamnya.

Siapakah street photographer yang menjadi inspirasi om?

Wah banyak. Tapi secara visual, saya menyukai Martin Parr, Alex Webb, Harry Gruyaert, Raghu Rai dan Daido Moriyama. Dan kl bicara inspirasi, mngkin tidak hanya fotografer saja sebagai inspirasi saya dalam berkarya. Pelukis Raden Saleh dan Seniman grafis Andi Warhol menjadi bagian dr proses berkarya saya.

 © Chris Tuarissa

© Chris Tuarissa

Jika di perhatikan karya-karya om chirs banyak menggunakan komposisi layering, dan lebih ke street documentary, bagaimana pendapat om tentang itu?

Yaa…mungkin karena dokumentasi sosial selalu menjadi pijakan dasar saya saat memotret diruang publik. Kalau layering kan hanya bagian/pola dari komposisi, dan ini cuma salahsatu cara saya  menceritakan suatu kejadian (dengan banyak subjek) didalam 1 framing.

Menurut om chris kriteria seperti apa sajakah suatu foto street itu di anggap bagus?

Nah ini…  Karena karya Street Photography yang bagus menurut saya, blom tentu dibilang bagus oleh yang lainnya. Subyektif! Yang jelas, tetap pada kaidah fotografilah, ada komposisi, mengenal Segitiga Eksposur. Ada ide/gagasan, pesan serta kreatifitas.

Bagaimana pendapat om tentang perkembangan street photography di indonesia?

Di Indonesia, saat ini terlihat perkembangan yang pesat. Beberapa indikasi yang jelas adalah banyaknya kompetisi atau lomba foto. Padahal 2 atau 3 tahun yang lalu saya jarang/tidak menjumpai bentuk apresiasi foto bertajuk Street Photography disini. Kemudian munculnya beberapa grup fotografi jalanan diberbagai media sosial. Adanya sharing dan workshop tentang Street Photography juga menjadi penanda.

 © Chris Tuarissa

© Chris Tuarissa

Prestasi dan penghargaan apa saja yang sudah om dapatkan selama bergelut di dunia street photography?

Apa ya.. Sepertinya cuma apresiasi kecil-kecilan aja dari beberapa instansi dan grup-grup di sosial media, web dan media cetak, baik nasional maupun internasional hahaha. Dan kemudian menjadi bagian dari salah satu produsen kamera, mungkin bisa dikatakan prestasi juga ya.

Yang kami ketahui om chris adalah founder dari maklumfoto, apa sih maklum foto itu om ?

MAKLUMFOTO adalah wadah apresiasi, edukasi dan informasi  utk penggiat Street Photography diIndonesia.

Bagaimana kisahnya muncul gagasan untuk membentuk maklumfoto om?

Berawal dari Instagram pada tahun 2015, kejengahan ketika melihat salah satu foto “homeless” diangkat dan difitur oleh salah satu Group Hub menjadi foto terbaik Street Photo adalah awal pemicu lahirnya MaklumFoto. Kemudian, saya berdiskusi bersama Tomi Saputra, untuk membuat Group Hub mengenai Street Photography yg lebih terarah dan mencoba mengulas/memaknai setiap foto terbaik yang akan difitur. Mengadakan acara Sharing, Bedah Foto dan Hunting bareng, dll. Karena kami sadar bahwa edukasi sangat penting untuk mengenalkan pendekatan fotografi jenis ini.  Alhamdulillah bisa diterima.

 © Chris Tuarissa

© Chris Tuarissa

Apa visi dan misi maklumfoto sendiri om, dan apa harapan om chris dengan maklumfoto om? 

Ya..   itu, Mengenalkan Street Photography (Indonesia khususnya) ke banyak orang dan diharapkan kedepannya akan lahir talenta2 terbaik dari negeri ini dan dikenal dikancah Internasional. Harapannya sih semoga MaklumFoto bisa selalu memberikan yang terbaik saja bagi Fotografi Indonesia, khususnya Street Photography.

 © Chris Tuarissa

© Chris Tuarissa

Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?

Kenali dan rasakan tempat kamu berada/tinggal, tempat kamu berinteraksi, tempat kamu berkegiatan, tempat kamu bersosialisasi. Kemudian cintailah dan rekam menurut caramu. Karena Street Photography itu cerminan dirimu. Selalu bergerak dengan Hati yg senang dan semangat menggali/mempelajari hal hal baru.

 

Website https://christuarissaphoto.wixsite.com/1969 

Instagram @chris_tuarissa

Flickr @christuarissa

Tumblr http://www.christuarissa.tumblr.com

 

Artikel, Interview, Sharing, Street photography,

Street Photography Sharing : Andryaniade

Perkenalkan nama saya ade Andryani. Saya tinggal di Jakarta. Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya di dunia street photography yang sudah saya geluti selama ini.

Kenapa Street Photography?

Banyak yang bertanya pada saya “loh mbak ade kan cewek kok memilih street photography kan pada umumnya kalo cewek tuh suka sama genre foto yang syarat akan keindahan seperti landscape atau modeling, apa sih mbak alasanya kenapa mbk ade memilih street photography sebagai hobi yang digeluti mbk ade saat ini ?” hehe. mungkin itu pertanyaan yang sering terlontar dari teman-teman saya. langsung aja ya biar tidak terlalu panjang pembahasanya kasihan masdin yang ngetik hahaha. oke “kenapa street photography?” . Alasanya karena pada street photography saya menemukan kesenangan dalam mengabadikan moment-moment di sekitar saya . Dulu saya mulai mengabadikan moment di jalanan dengan menggunakan kamera Smartphone. Mungkin itu alasan kedua saya kenapa memilih street photography karena cenderung lebih simple dalam hal kamera bahkan ada juga teman-teman saya yang mengabadikan moment dengan kamera analog.

Kemudian Alasan yang lain , Street Photography bisa dikatakan unik. Di tempat yang sama di waktu yang berbeda kita akan menemukan moment-moment yang berbeda yang kebetulan terjadi. Dalam hal ini tentu saja keadaan maupun subject yang kita abadikan pastilah jujur karena kita tidak men-direct  atau merekayasa moment dan subject kita yang apa adanya yang kita abadikan secara spontan.

Namun tidak jarang pula kita bisa menebak hal apa yang akan terjadi dalam kejadian yang biasa terjadi sehari-hari, Sehingga kita bisa merasakan kapan kita akan menekan tombol shutter dan memaksimalkan foto yang akan kita abadikan.

Dalam Street Photography hal lain yang saya sukai yaitu kita bisa memotret di manapun di ruang publik, Seperti di jembatan umum, saat kita berada di warung ataupun ketika sedang di mall dsb.  hal inilah yang paling menarik bagi saya.

Bagaimana pendekatan dalam Street Photography?

 

Dulu saat saya masih menggunakan kamera smartphone, Saya lebih sering mengambil foto dengan cara candid. Hal ini dikarenakan ukuran smartphone yang kecil di banding kamera DSLR maupun mirrorless sehingga tidak begitu menarik perhatian subject di sekitar kita sehingga saya lebih mudah menyesuaikan saat pengambilan foto.

Namun setelah saya mulai menggunakan kamera DSLR, disitulah saya baru merasakan betapa usahnya dalam pendekatan tersebut. Masih malu-malu dan terkesan mencuri foto , Itulah yang saya rasakan di awal saya mulai menggeluti street photography. Dan setelah saya meyakinkan diri dan mendapatkan motivasi dari teman-teman saya , Saya berusaha untu lebih berani dalam mengambil foto , berusaha berfikir positif dan tersenyum adalah kunci terpenting yang menjadi modal awal agar subject tidak merasa risih ataupun terganggu. Bahkan jika perlu ajaklah subject tersebut berinteraksi agar foto kita lebih hidup dan bercerita.

Nah berikut ini akan saya perlihatkan beberapa karya saya ,

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto yang saya ambil secara spontan / Decisive moment.

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto dengan komposisi layering yang saya ambil dengan mengamati aktifitas mereka terlebih dahulu ,

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas foto dengan low angle atau sering dikenal dengan istilah congkel.

© Andryaniade

© Andryaniade

Foto di atas contoh foto dengan High Angle atau sudut pengambilan dari atas

Sebenarnya ada banyak sekali teknik dan komposisi dalam street photography tapi saya tidak akan memaparkan secara rinci karena nanti artikel ini jadi terlalu panjang mungkin beberapa foto saja.

Prestasi atau penghargaan apa saja yang sudah pernah di raih selama menggeluti dunia Street Photography?

hahaha Sebenarnya saya sedikit sungkan jika membahas masalah ini tapi baiklah saya akan sedikit ceritakan. Untuk penghargaan waktu itu pernah mengikuti Lomba Foto di ajang JSPI (Jambore Street Photography Indonesia) 2016 yang waktu itu diselenggarakan di bandung dan kebetulan saya mendapat juara ke 3. Pernah juga menjadi nominasi di ajang World Street Photography 2016 dan 2017. Mungkin itu yang saya ingat hahaha.

Adakah tips untuk teman-teman yang baru memulai menggeluti Street Photography?

Untuk tips buat temen-temen yang mau menggeluti atau baru mulai menggeluti street photography , Mungkin sering-seringlah buat motret di ruang publik, Jelilah melihat situasi kalau istilah anak jaman sekarang gercep melihat keadaan hahaha. Dan cobalah memotret di satu tempat setiap hari selama seminggu, biasanya efektif untuk melihat perkembangan foto kita, Misal motret gang di deket rumah , Foto hari pertama without people / tanpa subject, Besoknya lagi Multiple subject dst. intinya observasilah, Nanti jika gagal atau kurang memuaskan hasilnya , Cobalah lagi dan jangan menyerah. hehe.

 

Akun instagram mbak ade?

Baik sebagai penutup saya share akun instagram saya mungkin bagi temen-temen yang mau bertanya atau bersilaturahmi dengan saya bisa langsung DM saja akun IG saya yaitu @andryaniade  

Mungkin sekian sharing dari saya terimkasih banyak buat temen-temen yang mau membaca sharing saya ini semoga bermanfaat , Salam Street Photography Indonesia!