Author

Artikel,

Sejarah Dan Perkembangan Kamera Dari Masa Ke Masa

Sejarah kamera dapat ditelusuri lebih jauh ke belakang daripada pengenalan fotografi. Kamera berevolusi dari kamera obscura, dan terus berubah melalui banyak generasi teknologi fotografi, termasuk daguerreotype, calotype, Dry Plates, film, sampai dengan kamera digital.

Kamera Obscura

Kamera obscura adalah kamera pertama dalam sejarah fotografi. Obscura berasal dari bahasa Latin yang artinya “ruang gelap”. Kamera ini berbentuk seperti sebuah kotak dengan ruang gelap atau kedap cahaya di dalamnya. Kamera obscura dapat memantulkan cahaya melalui dua buah lensa konveks, yang kemudian menempatkan gambar pada film/kertas di titik fokus pada lensa kamera. Catatan tertua yang membahas tentang prinsip ini adalah deskripsi yang dikemukakan oleh filsuf Han Cina Mozi (470 hingga 391 SM). Mozi menegaskan bahwa gambar kamera obscura terbalik karena cahaya bergerak dalam garis lurus dari sumbernya.

 

Pada abad ke-11 fisikawan Arab, Ibnu Al-Haytham (Alhazen) menulis buku-buku yang sangat berpengaruh tentang optik, termasuk eksperimen dengan cahaya melalui lubang kecil di ruangan yang gelap. Hal itu menjadi titik awal penemuaan teknologi kamera.

Ilustrasi Prinsip Kamera Obscura – Sumber : Wikipedia

 

 

Gambar Seorang seniman menggunakan kamera obscura abad ke-18 untuk melacak gambar – Sumber : Wikipedia

Joseph Nicéphore Niépce adalah orang pertama yang menghasilkan foto menggunakan kamera pada tahun 1816. Ia menghasilkan foto pertamanya menggunakan kamera yang sangat kecil buatanya sendiri dan dengan menggunakan selembar kertas dilapisi dengan perak klorida. Meskipun saat itu ia belum dapat menghasilkan foto yang permanen, kemudian pada pertengahan 1820-an, Niépce bereksperimen lagi menggunakan kamera obscura yang terfokus pada pelat timah 16,2 cm x 20,2 cm (6,4 in × 8,0) yang dilapisi tipis dengan aspal judea, yaitu aspal yang terbentuk secara alami yang peka akan cahaya.

 

Plat asli Joseph Nicéphore Niépce – View From The Window At Le Gras – Sumber : Wikipedia

 

Foto permanen pertama karya Joseph Nicéphore Niépce – View From The Window At Le Gras – Sumber : Wikipedia

Kamera obscura yang tidak praktis mengalami perkembangan. Pada tahun 1660-an, ilmuwan asal Inggris Robert Boyle dan asistennya Robert Hook menemukan kamera portable obscura. Kamera ini merupakan bentuk modifikasi kamera obscura sehingga bentuknya lebih ringkas.

Kamera Obscure Portable – Sumber : Wikipedia

Namun, kamera pertama yang sangat praktis untuk digunakan dalam bidang fotografi ditemukan oleh Johann Zahn, pada tahun 1685. Prinsip kamera model Zahn ini menggunakan slide tambahan sebagai alat untuk memfokuskan objek. Sistem Zahn tersebut mampu memberikan tambahan plat sensitif di depan lensa kamera sebelum melakukan pengambilan gambar.

Daguerreotypes dan calotypes

Setelah kematian Niépce pada tahun 1833, rekannya Louis Daguerre terus bereksperimen. Pada tahun 1837 Daguerre menciptakan proses fotografi praktis pertama, yang ia beri nama daguerreotype dan dipublikasikan pada tahun 1839. Daguerre menggunakan lembaran tembaga berlapis perak dengan uap yodium untuk memberikan lapisan iodida perak peka cahaya. Setelah terpapar di kamera, gambar dikembangkan oleh uap merkuri dan diperbaiki dengan larutan natrium klorida.

Kamera Daguerreotype dibuat oleh Maison Susse Freres pada tahun 1839, dengan lensa oleh Charles Chevalier – Sumber : Wikipedia

Henry Fox Talbot menyempurnakan proses yang berbeda yaitu calotype pada tahun 1840 dan di komersilkan. Ia mengembangkan kamera yang sangat sederhana yang terdiri dari dua kotak bersarang. Kotak belakang memiliki layar kaca tanah yang bisa dilepas dan bisa masuk dan keluar untuk menyesuaikan fokus. Setelah pemfokusan, kaca tanah diganti dengan pegangan yang kedap cahaya yang berisi pelat atau kertas peka dan lensa tertutup. Kemudian fotografer membuka cover pada holder, membuka tutup lensa, dan menghitung menit sebanyak yang di inginkan yang disesuaikan dengan kondisi pencahayaan sebelum mengganti tutup dan menutup dudukannya. Meskipun kesederhanaan mekanis ini, lensa achromatic berkualitas tinggi telah menjadi standar.

Kamera Calotype C 1850 – Sumber : Wikipedia

Dry Plates Collodion

Plat kering collodion mulai digunakan orang semenjak tahun 1857, kamera yang satu ini merupakan buah karya dari Desire van Monckhoven. Empat belas tahun kemudian, kamera pelat kering ini dimodifikasi oleh Richard Leach Maddox yang berhasil menciptakan pelat basah yang kualitas dan kecepatan pengambilan gambarnya lebih baik.

 

Kamera studio abad ke-19 – Sumber : Wikipedia

Perjalanan kamera Colliidion terus berlangsung hingga pada tahun 1878 ditemukan emulsi gelatin yang mampu meningkatkan sensitivitas kamera, sehingga kamera bisa mengambil gambar secara spontan.

Pada tahap inilah untuk pertama kalinya, kamera bisa dibuat cukup kecil untuk dipegang tangan, atau bahkan tersembunyi. Ada proliferasi dari berbagai desain, dari refleks tunggal dan lensa ganda untuk kamera besar dan kamera genggam.

Kodak dan kelahiran film

Penggunaan film pada fotografi dipelopori oleh George Eastman , yang mulai memproduksi kertas film pada tahun 1885 sebelum beralih ke seluloid pada tahun 1888-1889. Kamera pertamanya, yang ia sebut ” Kodak ,” pertama kali ditawarkan untuk dijual pada tahun 1888.Kodak adalah kamera kotak yang sangat sederhana dengan lensa fixed-focus dan kecepatan rana tunggal, yang harganya relatif lebih murah dari kamera-kamera sebelumnya sehingga menarik konsumen pada saat itu. Kodak datang dengan pre-loaded film yang cukup untuk 100 eksposur dan harus dikirim kembali ke pabrik untuk processing dan reloading ketika roll film habis digunakan. Pada akhir abad ke-19 Eastman telah mengembangkan ke beberapa model termasuk kotak dan kamera lipat.

Kotak kamera Brownie, sekitar tahun 1910 – Sumber : Wikipedia

Pada tahun 1900, Eastman mengambil langkah lebih maju di pasar fotografi dengan produknya yang ia beri nama Brownie, kamera kotak sederhana dan sangat murah yang memperkenalkan konsep snapshoot pertama kali. Brownie sangat populer dan berbagai model tetap dijual sampai 1960-an.

Meskipun ada kemajuan dalam fotografi berbiaya rendah yang dipelopori oleh Eastman, tetapi kamera yang menggunakan plat masih menawarkan cetakan berkualitas lebih tinggi dan tetap populer hingga abad ke-20.

Seperti kamera Schmidt , astrograf yang paling profesional terus menggunakan pelat sampai akhir abad ke-20 ketika fotografi elektronik menggantikannya.

35 mm

Sejumlah produsen mulai menggunakan film 35mm antara 1905 dan 1913. Kamera 35mm pertama yang tersedia untuk umum, dan mencapai angka penjualan paling signifikan adalah Tourist Multiple pada tahun 1913, dan Simplex pada tahun 1914.

Kamera Leica I 35 mm, 1925 – Sumber : Wikipedia

Oskar Barnack , yang bertanggung jawab atas penelitian dan pengembangan di Leitz , memutuskan untuk melakukan uji coba menggunakan film 35 mm ketika mencoba untuk membuat compact camera yang mampu menghasilkan pembesaran foto berkualitas tinggi. Dia membangun prototipe kamera 35 mm (Ur-Leica) sekitar tahun 1913, meskipun pengembangan lebih lanjut tertunda selama beberapa tahun oleh Perang Dunia I. Setelah Perang Dunia I, Leitz mencoba memasarkan kamera 35mm pertama mereka antara 1923 dan 1924, mereka mendapat respon yang cukup positif dari masyarakat sehingga kemudian memproduksi kamera 35mm tersebut sebagai Leica I (untuk Lei tz ca mera) pada tahun 1925. Popularitas Leica langsung melahirkan sejumlah pesaing, terutama Contax (diperkenalkan pada 1932).

Kodak memasarkan Retina I pada tahun 1934, yang memperkenalkan kartrid 135 yang digunakan di semua kamera modern 35 mm. Meskipun Retina relatif murah, kamera 35 mm masih jauh dari jangkauan kebanyakan orang dan roll film tetap format pilihan untuk kamera yang dijual secara umum. Hal ini berubah pada tahun 1936 dengan diperkenalkannya Argus A yang murah pada tahun 1939 dan disusul dengan kedatangan Argus C3 yang sangat populer. Meskipun kamera termurah masih menggunakan roll film, film 35 mm telah mendominasi pasar pada saat C3 dihentikan pada tahun 1966.

Industri kamera Jepang yang mulai bermunculan pada tahun 1936 dengan Canon 35 mm, versi yang lebih baik dari prototipe Kwanon 1933. Kamera Jepang mulai menjadi populer di Barat setelah veteran Perang Korea dan tentara yang ditempatkan di Jepang membawa mereka kembali ke Amerika Serikat.

TLR dan SLR

Kamera refleks praktis pertama adalah Frankle & Heidecke Rolleiflex TLR medium-format tahun 1928. Meskipun kedua kamera refleks single-lens dan twin-lens telah tersedia selama beberapa dekade, kamera itu terlalu besar untuk mencapai popularitas. Rolleiflex-lah yang mencapai popularitas yang luas sehingga desain format medium TLR menjadi populer untuk kamera high-end dan low-end.

Kamera bersejarah: Contax S 1949 – pentaprism SLR pertama – Sumber : Wikipedia

Revolusi serupa dalam desain SLR dimulai pada 1933 dengan pengenalan Ihagee Exakta , SLR compact yang menggunakan 127 roll film. Hal ini diikuti tiga tahun kemudian oleh SLR Barat pertama yang menggunakan 135 film , Kine Exakta (SLR 35 mm pertama di dunia adalah kamera “Sport” Soviet , dipasarkan beberapa bulan sebelum Kine Exakta, meskipun “Sport” menggunakan kartrid filmnya sendiri). Desain SLR 35mm mendapatkan popularitas langsung dan ada ledakan model baru dan fitur inovatif setelah Perang Dunia II. Ada juga beberapa TLR 35 mm, yang paling terkenal di antaranya adalah Contaflex tahun 1935.

Inovasi yang ada pada SLR adalah eye-level viewfinder, yang pertama kali muncul di Hungarian Duflex pada tahun 1947 dan disempurnakan pada tahun 1948 dengan Contax S, kamera pertama yang menggunakan pentaprism . Sebelum ini, semua SLR menggunakan waist-level focus. Duflex juga merupakan SLR pertama dengan instant-return mirror, yang mencegah viewfinder menjadi gelap oleh exposure. Pada periode yang sama munculah 1600F Hasselblad , yang menetapkan standar untuk SLR medium-format selama beberapa dekade.

Pada tahun 1952, Asahi Optical Company (yang kemudian dikenal dengan kamera Pentax-nya) memperkenalkan SLR Jepang pertama menggunakan 135 film, Asahiflex. Beberapa produsen kamera Jepang lainnya juga memasuki pasar SLR pada 1950-an, termasuk Canon, Yashica , dan Nikon. Masuknya Nikon, yaitu Nikon F, memiliki komponen dan asesoris yang dapat diganti yang menjadi sistem kamera jepang pertama. Nikon F dan seri S, yang membantu membangun reputasi Nikon sebagai produsen kamera berkualitas profesional.

Kamera Instan

Model Polaroid J66, 1961 – Sumber : Wikipedia

Sementara kamera konvensional menjadi lebih canggih, jenis kamera yang sama sekali baru muncul di pasaran pada tahun 1948. Ini adalah Polaroid Model 95, kamera instant-picture pertama di dunia. Dikenal sebagai Kamera Land setelah penemuanya oleh Edwin Land. Model 95 menggunakan proses kimia yang dipatenkan untuk menghasilkan cetakan positif yang telah selesai dari negatif yang terekspos dalam waktu kurang dari satu menit. Kamera Land cukup diminati meski harganya relatif tinggi dan jajaran Polaroid telah meluas menjadi lusinan model pada 1960-an. Kamera Polaroid pertama yang ditujukan untuk pasar populer, Model 20 Swinger of 1965, sukses besar dan tetap menjadi salah satu kamera terlaris sepanjang masa.

Otomatisasi

Kamera pertama yang mengusung eksposure otomatis yang dilengkapi dengan selenium light-meter adalah Super Kodak Six-20 pack di Tahun 1938, tetapi harganya sangat tinggi sekitar $ 225 saat itu ( setara $ 3912 untuk saat ini ). Pada tahun 1960-an, komponen elektronik berbiaya rendah merupakan hal yang biasa dan kamera yang dilengkapi dengan pengukur cahaya dan sistem exposure otomatis menjadi semakin meluas.

MEC-16 SB 16mm subminiature camera – Sumber : Wikipedia

Kemajuan teknologi berikutnya datang pada tahun 1960, ketika Mec 16 SB subminiature Jerman menjadi kamera pertama yang menempatkan pengukur cahaya di belakang lensa untuk pengukuran yang lebih akurat. Namun, pengukuran melalui lensa pada akhirnya menjadi fitur yang lebih umum ditemukan pada SLR dibandingkan jenis kamera lainnya. SLR pertama yang dilengkapi dengan sistem TTL adalah Topcon RE Super tahun 1962.

Kamera Analog

Sejarah kamera fotografi selanjutnya sampai pada tahun 1981 saat dimulainya pembuatan kamera analog, yang teknik pengambilan gambarnya masih bisa menggunakan film seluloid (klise/film negatif). Yang pertama kali membuat kamera analog ini adalah Sony Mavica.

Kamera Sony Mavica – Sumber : Wikipedia

Pada Olimpiade 1984, pertama kalinya kamera analog yang diproduksi Canon digunakan untuk memotret Yomiuri Shinbun yang hasilnya kemudian dimuat di surat kabar Jepang.

Namun seiring perjalanannya, kamera analog kurang mendapat antusias masyarakat karena biaya penggunaannya yang sangat mahal, serta kualitas gambar yang kurang baik jika dibandingkan dengan kamera lain. Aplikasi kamera analog saat ini banyak dipakai untuk kamera CCTV.

Kamera Digital

Kamera digital pertama kali dikembangkan oleh Fuji pada tahun 1988, yang menggunakan kartu memori 16 MB untuk menyimpan data foto yang diambil.

Selanjutnya kamera digital mulai dikenalkan pada masyarakat luas semenjak tahun 1989 oleh Fuji. Pada tahun 1991, dimulailah pemasaran kamera digital Kodak DCS-100 yang beresolusi 1,3 megapiksel dan ditawarkan dengan harga US$ 13.000.

Kamera Kodak DCS 100 – Sumber : Wikipedia

Format foto kamera digital mulai beralih menjadi JPEG dan MPEG yang tidak memakan banyak tempat pada penyimpanan data. Pada tahun 1995, kamera digital dengan kristal cair di bagian belakang lensa mulai dikembangkan oleh Hiroyuki Suetaka dengan nama kamera Casio QV-10.

Minolta RD-175 – Sumber : Wikipedia

Pada tahun 1995 Minolta memperkenalkan RD-175, yang didasarkan pada Minolta 500si, SLR dengan splitter dan tiga CCD independen. Kombinasi ini menghasilkan 1,75 juta piksel.

Nikon D1 – Sumber : Wikipedia

Pada tahun 1999 munculah NIkon D1, kamera 2,74 megapiksel yang merupakan SLR Digital pertama. Dimana Nikon berhasil menekan biaya produksi hingga US$ 6.000 untuk memproduksi Nikon D1. Kamera ini juga menggunakan lensa Nikon F-mount, yang berarti fotografer film dapat menggunakan banyak lensa yang sama yang sudah mereka miliki.

Sensor CMOS Canon – Sumber : digitalcamera.co.id

Penjualan kamera digital terus berkembang, didorong oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat. Pasar kamera digital tersegmentasi ke dalam berbagai kategori, Kamera Digital Compact Still, Bridge Camera, Mirrorless Compacts dan DSLR. Salah satu kemajuan teknologi kamera digital yang paling utama adalah pengembangan sensor CMOS, yang membantu mendorong biaya produksi sensor yang cukup rendah untuk dapat di aplikasikan sebagai kamera ponsel maupun smartphone.

 

 

 

Refrensi :
Wikipedia :
History Of The Camera
Bitumen Of Judea
Ibn Al-Haytham
View From The Window At Le Gras
Camera Obscura
Mozi
Mec 16 SB
Folder Tekno : Sejarah Kamera

 

 

 

Artikel, Sharing,

Berkarya Untuk Siapa?

Malam itu salah seorang teman mengajak untuk ngopi di salah satu cafe di Banyumanik, Semarang. Saya sempat diam sejenak ketika mendengar ajakan teman saya tersebut, karena teringat pekerjaan yang masih menumpuk dan deadline pekerjaan yang semakin dekat. Kabar baiknya, kebetulan juga sebenarnya saya ada rencana ingin bertemu dengan salah seorang teman di semarang untuk berdiskusi soal website. Akhirnya, saya terima ajakan teman saya tersebut sekaligus menemui teman saya di salah satu cafe di daerah Banyumanik, Semarang.

Seperti kebanyakan penggiat fotografi pada umumnya, saya beserta teman-teman terkadang meluangkan waktu untuk sekedar ngopi sembari rasan-rasan tentang fotografi. Hal ini sudah menjadi adat bagi kami untuk mempertahan semangat dalam berkarya dan bertukar fikiran seputar fotografi.

Copyright dinprasetyo

Copyright dinprasetyo

Pembahasan malam itu mulai menarik, ketika salah seorang teman saya mencurahkan kegundahanya tentang karya-karyanya yang menurutnya seperti tidak ada dirinya dalam karya fotografinya. Padahal, karyanaya sudah pernah menjuarai salah satu kompetisi fotografi bergengsi di indonesia yang di adakan setiap tahun. Akan Tetapi, Dia kehilangan kenikmatan dalam fotografi seperti ketika awal-awal menegnal fotografi. Dimana, dulu Dia berkarya merasa lebih nyaman tanpa terlalu memikirkan berbagai macam hal, salah satunya penerimaan dari orang lain tentang karyanya. Hal tersebut bukan berarti mencari penerimaan itu salah lho!. Semua tergantung dari tujuan kita masing-masing dalam berkarya. Contohnya, jika kita menjadi fotografer freelance maupun fotografer profesional  sudah pasti kita menghasilkan foto harus sesuai yang di harapkan oleh client kita, karena kita mendapatkan fee untuk hal tersebut.

Dalam konteks ini kita bisa melihat pada industri musik. Banyak band-band besar yang beralih dari major label ke indie label. Salah satu contohnya Sheila On 7 , Pada album ke-8 mereka yang berjudul “Musim yang Baik”, mereka lebih memilih indie label, kenapa?. Alasan utamanya, karena mereka merasa kecewa dengan major label yang mengubah konsep album ke-8 mereka berbeda jauh dari yang sudah mereka rencanakan.

Major label adalah perusahaan bisnis, wajar saja mereka seperti itu karena memang orientasi mereka adalah profit. Orientasi mereka adalah bagaimana memenuhi permintaan pasar saat ini untuk meraup profit. Sedangkan, Sheila On 7 adalah para seniman yang tidak hanya ingin mendapatkan profit saja tapi bisa menyalurkan karakter music mereka secara utuh dan terkadang mereka ingin observasi untuk lebih meng-explorasi gaya bermusik mereka dan itu tidak akan bisa jika mereka masih berada di major label yang lebih mengutamakan pasar dibandingkan nilai seni dari Sheila On 7.

Begitupun, yang dialami oleh teman saya. Dia dulu berkarya benar-benar menuruti apa yang dia suka tanpa memikirkan apakah orang suka atau tidak yang terpenting dia dapat menyalurkan cara pandangnya terhadap dunia melalui medium fotografi. Akan tetapi, setelah dia menjadi juara di salah satu perlombaan fotografi bergengsi di indonesia dia merasa hampa dalam berkarya, gundah tak tentu arah.

Permasalahan yang dialami oleh teman saya adalah konflik batin yang saya sendiri pun pernah mengalami hal sedemikian rupa. Dimana kita berkarya terlalu memikirkan penerimaan dari orang lain. Sehingga, kita berkarya tidaklah jujur. Karya kita hanya berorientasi pada jempol dari masyarakat luas. Seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya diatas. Mencari pengakuan dari masyarakat luas bukanlah suatu yang salah. Setiap seniman pasti senang jika karyanya mendapatkan apresiasi positif, tetapi apakah kita dapat berdamai dengan diri kita sendiri. Karya yang kita hasilkan yang disukai banyak orang tersebut kita benar-benar suka atau tidak? Jika memang hal itu dapat berjalan selaras dangan diri dan ego kita sendiri, bahwa memang dengan seperti itu kita mendapatkan kepuasan diri. It’s No Problem! Akan menjadi masalah jika hal itu bertolak belakang.

Memang yang paling indah apabila kita berkarya dengan cara kita dan orang mengapresiasi positif hal tersebut. Akan tetapi semuanya butuh proses dan tidak instan. Kita bisa ambil kisah Thomas Alfa Edison yang bercita-cita menjadikan malam terang sebagaimana siang. Setelah beribu-ribu kali observasi, Berhasil juga apa yang dia cita-citakan. Alhasil, sampai saat ini kita merasakan buah dari masterpiece Thomas Alfa Edison dan  jika kita mendangar nama Thomas Alfa Edison pasti kita kan mengacungkan jempol padahal dulu dia dianggap gila sebelum dia berhasil menemukan bohlam.

Semua ada pada tangan kita masing-masing. Kita berkarya untuk siapa?. Untuk orang lain atau untuk diri sendiri? Apakah kita dapat berdamai dengan diri kita untuk keputusan kita tersebut? Hanya diri kita masing-masing yang dapat menjawabnya.

Artikel, Sharing,

Advokasi Terhadap Lensa Kit

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou).

Anda mungkin saja sama dengan saya, mulai memotret dengan menggunakan ‘kamera serius’ sepaket dengan lensa bawaan atau lebih sering disebut lensa kit. Bagi pemula, menenteng DSLR dan lensa kit sudah cukup memupuk rasa percaya diri. Karena paling tidak, ia akan merasa fotonya akan lebih baik dari sebelumnya ketika masih menggunakan smartphone atau kamera saku. Hingga suatu saat, rasa percaya diri ini akan luntur setelah ia bertemu teman-teman komunitas foto atau menyaksikan ulasan di internet.

Ya, kadang lingkungan kita memang sekejam itu.

Perangkat pertama yang saya gunakan adalah EOS 400D, menggantikan status kepemilikan punya teman, dan lensa fix pinjaman darinya; 50mm, keduanya sama-sama terbitan Canon. Waktu itu hanya mampu mengakuisisi body kamera saja. Baru beberapa bulan kemudian, akhirnya saya membeli 18-55mm via forum jual beli di internet. Bekas pula, tentu saja. Selama beberapa tahun lensa kit ini saya gunakan untuk memotret berbagai urusan, dari kebutuhan pribadi hingga kerjaan.

Bukan Yang Terbaik

Semua sudah tahu, lensa kit bukan yang terbaik. Bahkan sebagian orang mengatakan sebaliknya. Tapi menurut saya, lensa ini cukup baik untuk proses pembelajaran. Seorang pemula harus paham apa bedanya baik dan buruk, mengapa dianggap baik, demikian pula sebaliknya. Hingga kemudian ia dapat memutuskan mana yang terbaik untuk dirinya.

Apakah lensa ini tajam? Tentu saja tidak. Jika dibandingkan dengan lensa-lensa seri premium. Untuk cetak resolusi besar akan nampak jelas perbedaannya. Namun faktanya, mayoritas fotografi di era digital hanya berakhir di internet. Diunggah di akun Facebook, Flickr, Instagram masing-masing, yang ukurannya tidak lebih dari 1 megapixel. Anda melampaui jagoan jika dapat membedakan hasil lensa kit dan lensa premium hanya dengan melihat foto yang berukuran sekecil itu.

Faktor lain yang menentukan ketajaman selain kualitas optik adalah cahaya, dan bagaimana mengolahnya. Menguasai teknik pencahayaan tidak sekedar memahami kegunaan Evaluative, Center-Weighted atau Spot Metering, tapi juga memahami bagaimana lensa yang kita merespon cahaya. Tidak akan ada lensa kit yang merasa terintimidasi dengan lensa gelang merah jika penggunanya menguasai teknik ini.

fashion Week

Fashion Week, Jakarta, 2012 | Difoto dengan lensa Canon EF-S 18–55mm f/3.5–5.6 IS USM. © Suryo Brahmantyo

Karakteristik

Biasanya sudah template, merk apapun, lensa kitnya adalah zoom dengan rentang fokal antara 18mm hingga 55mm. Walaupun tidak semua lensa kit adalah 18-55mm, tapi dengan menyebut lensa kit, orang langsung mengasosiasikannya demikian.

01. Murah

Secara alamiah, lensa kit digolongkan ke dalam lensa murah. Pabrikan kamera dan lensa tidak perlu merasa sensitif membaca kata ‘murah’. Mereka sengaja saling berlomba menjangkau pengguna DSLR baru dengan merancang lensa dengan harga seminim mungkin.

02. Panjang fokal

Dengan rentang fokal 18-55mm, seolah kita memiliki beberapa lensa fix dalam satu unit. Paling tidak, di dalamnya ada lensa dengan panjang fokal 18mm, 24mm, 28mm, 35mm, dan 55mm. Bidang pandang yang dihasilkan pada masing-masing panjang fokal, kira-kira sebanding dengan 28mm, 35mm, 50mm, dan 85mm, pada kamera full frame.

Mengambil referensi dari para fotografer internasional, banyak sekali foto berpengaruh yang dihasilkan dari lensa dengan panjang fokal di rentang 18-55mm (atau 28–85mm, pada full frame).

03. Apertur

Pada body lensa kit, biasaya tertulis kode 18–55mm ƒ/3.5–5.6; pada posisi 18mm, akan menghasilkan apertur maksimal ƒ/3.5, dan di 55mm, akan menghasilkan apertur maksimal ƒ/5.6. Untuk hasil maksimal, hanya gunakan lensa ini pada kondisi pencahayaan yang benderang.

04. Kualitas fisik

Jika Anda termasuk orang yang menilai kualitas barang dari melihat dan memegang, jangan langsung membuang lensa ini. Sabar dulu, meskipun demikian, lensa ini masih bisa berbuat sesuatu. Kadang malah cukup membantu jika Anda sedikit menepikan faktor-faktor teknis.

Kepulauan Seribu, 2015

Kepulauan Seribu, 2015 | Difoto dengan lensa Fujinon XF 18–55mm f/2.8–4 OIS. © Suryo Brahmantyo

Memaksimalkan Lensa Kit

Dalam proses mempelajari karakteristik lensa kit, biasanya kita tertarik untuk membandingkannya dengan lensa lain. Dan kemudian menghasilkan temuan-temuan baru yang cenderung menyudutkan posisi lensa kit. Hingga akhirnya, memutuskan untuk berganti lensa yang lebih baik. Ini akan menjadi masalah ketika kita dihadapkan dengan keterbatasan dana.

Tapi masa iya, lensa kit ngga ada tajam-tajamnya?

Tidak ada salahnya kita mengapresiasi segala sesuatu yang kita punya. Jangan mudah percaya dengan opini-opini miring yang beredar. Opini tidak akan pernah menjadi teori tanpa diuji dan dicoba. Dan teoripun tidak akan menjadi mutlak karena selalu ada penyesuaian.

Bagi teman-teman yang menggunakan lensa kit sebagai andalan, jangan berkecil hati dulu. Kekurangan teknis bisa ditutup dengan kekuatan konten foto yang kita hasilkan. Ini bisa didapat dengan memperbanyak literasi visual; membaca buku foto dan buku apapun yang mengandung foto. Atau bisa juga dengan membuka jendela dan pintu baru, mencoba bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan fotografi.

Ya, karena terlalu sering berkomunitas dengan sesama fotografer hanya akan berakhir dengan mahal-mahalan alat.

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Artikel, Street photography,

Belajar Komposisi Golden Mean Dari Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson adalah seorang fotografer asal Prancis yang telah diakui menjadi bapak jurnalisme foto modern. Dia adalah pengadopsi awal 35 mm format dan master candid photography. Ia membantu mengembangkan “Street Photography” atau “real life reportage” yang telah banyak mempengaruhi generasi fotografer setelahnya.

Henry Cartier Bresson

Henry Cartier Bresson

Geometri & Komposisi

Fokus utama dari karya Henry Cartier Bresson adalah geometri, itu adalah hal yang utama dan terpenting baginya.
Jika kita amati dengan seksama karya-karya beliau selalu berdasar pada Golden Mean dan Golden Proportion.

Golden mean juga dikenal dengan golden section adalah sebuah panduan komposisi yang didasarkan pada perhitungan matematika yang unik. Panduan komposisi ini pertama kali didokumentasikan oleh seniman yunani kuno dan sampai saat ini masih digunakan meskipun popularitasnya agak tertutupi oleh panduan komposisi rule of third. Prinsipnya panduan kompoisi ini hampir sama dengan rule of third namun titik interesnya lebih sempit sekitar 5% kearah tengah. Pada teorinya golden mean ini bisa digunakan pada semua scene foto termasuk fotografi jalanan, tapi pada prakteknya lebih mudah diaplikasikan pada foto portrait formal/klasik. Selain itu, golden mean bertujuan untuk menciptakan sebuah foto visual yang menarik, yakni sesuatu yang dapat menangkap perhatian orang dan menceritakan kisah di balik foto itu. Trik dari fotografer adalah untuk mengatur unsur-unsur untuk memungkinkan foto tersebut untuk menceritakan kisah yang ingin diberitahu. Memang benar bahwa sebuah foto bernilai seribu kata dan fotografer adalah orang-orang yang menulis mereka.

Dengan Mempelajari karya foto Henry Cartier Bresson, kami semakin menyadari bahwa semua yang akan di foto oleh beliau memiliki  irama dan proporsi yang tinggi.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, kami akan menunjukkan beberapa fotonya dengan menambahkan layer
Golden Mean pada foto Henry Cartier Bresson untuk memberi  gambaran yang lebih baik tentang bagaimana dia selalu mengaplikasikan Golden Mean pada karya-karyanya.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Pada gambar di atas, Anda akan melihat bagaimana subjek dan geometri lingkungan dikomposisikan pada foto tersebut. Henri sering mengatakan “you must sense it, quick!.”

Keseluruhan gagasan tentang Golden Proportion didasarkan pada kenyataan bahwa mata Anda
harus mengalir melalui foto. Ini adalah tindakan bawah sadar, bahwa perlu banyak latihan dan jam terbang agar mata kita terbiasa mengkomposisikan sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan.

Segala sesuatu tidak kekal, tidak pernah abadi, dalam perubahan konstan.
– Henry Cartier Bresson –
© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

“Kombinasikan gerak subjek dan kesenangan komposisi”
“Cobalah untuk mengambil gambar yang mengkonkret segalanya dan memiliki hubungan bentuk yang sangat kuat.”

Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Perhatikan foto-foto di atas mata anda akan digiring dari satu point utama ke point yang lain. Sekilas, ini bisa dilihat sebagai foto yang crowded dengan berbagi element dan subject, tapi tanpa anda sadari mata anda akan tergiring dan mengalir begitu saja ketika melihat foto tersebut.

Satu hal yang sangat penting untuk di ingat adalah titik fokus foto Anda tidak selalu harus menjadi dead center.
Dengan demikian, Anda menciptakan simetri yang sering membayangi sisa komposisi yang lain dalam foto anda. Asimetri menciptakan dinamika dan memungkinkan viewers melihat konteks dari suatu foto.

Sama halnya saat anda mengetik di keyboard, Anda harus merasakan di mana huruf-hurufnya untuk membuat kata / frase / kalimat. Begitu juga dengan komposisi, Anda harus merasakannya dan terkadang perlu untuk sedikit menunggu untuk menentukan komposisi yang tepat sebelum menekan tombol shutter.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Citra yang tersusun rapi tidak akan banyak jika tidak ada cerita bagus di belakangnya Setiap kali saya menemukan foto Henry Cartier Bresson, Kami langsung terpikat dengan mata seismiknya. Dia tidak hanya bisa menangkap komposisi hebat tapi juga membangkitkan momen kuat dalam sepersekian detik. Tujuan sebuah foto adalah untuk membangkitkan perasaan, menangkap sejenak dan menceritakan sesuatu. Pepatah mengatakan “gambar bernilai 1000 kata.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

 

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Ada kegembiraan besar dalam seni fotografi jalanan. Komposisi runtuh menjadi satu tangkapan tunggal. Semua iindera Anda langsung mengajukan pertanyaan besar. Ini
tempat di mana pemahaman Anda tentang geometri, ringan, dan bahasa tubuh akhirnya ditantang.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Bila Anda mengamati reaksi orang-orang di lingkungan Anda, Maka Anda akan selalu menemukan “Determining Moment”. Henri biasa mengatakan bahwa pandangan pertama sangat penting. Pandangan pertama menentukan apakah penangkapan Anda akan bagus atau tidak.

© Henry Cartier Bresson

© Henry Cartier Bresson

Selalu ada moment berupa gerakan tubuh subject yang lebih menarik dari yang lain, entah itu sebuah bayangan, langkah kaki atau Silhouette. Fotografi tidak terlalu banyak memakan otak, yang paling dibutuhkan adalah kepekaan. Sebuah kamera hanyalah perpanjangan mata Anda. Sayangnya, kepekaan terhadap moment sulit untuk dijelaskan, Anda harus merasakannya dengan segenap indra Anda sekaligus.

Siapa saja bisa mendapatkan 10 foto bagus dalam hidup mereka, tapi konsisten untuk tetap mendapatkan foto yang bagus berulang-ulang itulah yang menjadi rahasia sebenarnya.

 

 

 

Refrensi :

Wikipedia.com – Golden Mean

Duapfatografi – Golden Mean

 

 

Artikel,

Literasi Visual

Visual literacy / Literasi Visual adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar atau visual. Visual literacy hadir dari ide bahwasanya sebuah gambar bisa ‘dibaca’ dan arti bisa dikomunikasikan dari proses membaca.

Istilah visual literacy dikenalkan oleh John Debes, co-founder dari International Visual Literacy Association. pada tahun 1969. Pada dasarnya literasi visual berusaha menjelaskan bagaimana manusia melihat objek atau benda lalu menginterpretasi dan apa yang dipelajari dari pembacaan itu.

Dalam proses berkarya, paling tidak ada tiga pihak yang terlibat. Pembuat karya, Karya itu sendiri dan penikmat atau pembaca. Pembuat karya, dalam hal ini, fotografer memiliki sebuah ide, sebuah konsep mengenai sesuatu. Misal, ide tentang seorang ibu yang memikirkan masa depan anak-anaknya di mana mereka hidup dalam kemiskinan akibat Depresi Besar.

 

Dorothea Lange, Migrant Mother,

Dorothea Lange, Migrant Mother, 1936

 

Ide itu lalu dituangkan dalam sebuah foto yang lalu ‘dibaca’ oleh pembaca. Pembaca menginterpretasi pesan itu layaknya membaca artikel Koran lalu terbaca pulalah apa yang ingin disampaikan fotografer mengenai peristiwa yang dilihatnya dan ide yang ada dalam pikiranya. Pembaca (dalam hal ini pemerintah) lalu bereaksi, misalnya, dengan mengirimkan bantuan berupa 20.000 pon makanan ke perkampungan tempat ibu itu. Pembaca lain (John Steinbeck), ada yang terinspirasi dan membuat novel berjudul ‘The Grapes of Wrath’ .

Ketiga elemen ini tak bisa dipisahkan. Sang fotografer membuat karya, viewer melihat dan memaknai fotonya. Tapi, bagaimana, sebenarnya proses pemaknaan yang terjadi antara pembuat karya-karya-pembaca?

Bagaimana pembaca memaknai sebuah karya? Lalu bagaimana fotografer mempelajari proses pemaknaan tersebut untuk lalu menggunakannya dalam membuat foto, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dibaca sesuai yang diinginkan oleh fotografer?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin coba dipahami oleh visual literasi. Bagaimana mata manusia membentuk sebuah kisah dari foto atau teks visual lain yang dia lihat?

Visual literacy, atau literasi visual, bukanlah ilmu yang baku dan sudah mapan. Tidak seperti ’saudaranya’ ‘literasi aksara’ yang sudah dimapankan dengan salah satunya ilmu bahasa atau linguistic. Literasi visual cenderung masih baru. Pembahasannya tersebar dalam berbagai macam dispilin ilmu, seperti ilmu komunikasi, filosofi, sosiologi, ilmu media massa bahkan ilmu psikologi, antroplogi dan sejarah seni dan lain-lain juga membahas problematika pembentukan pemaknaan teks visual tersebut.

Artikel, Sharing,

Media Sosial Media Berkarya

Media sosial secara garis besar adalah media daring untuk saling terhubung dan berbagi informasi di dunia maya (internet). Menurut McGraw Hill Dictionary, Media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.

Dimulainya Era Sosial Media

Sejak lahirnya facebook pada tahun 2004, Mulailah babak baru dari sejarah teknologi manusia abad 21. Dimana saat itu masyarakat mulai berbondong-bondong untuk membuat akun media sosial di facebook untuk saling terhubung satu sama lain, meskipun hanya sekedar memiliki dan belum dapat memanfaatkan dengan baik.

Sebenarnya sebelum facebook sudah banyak sosial media yang lahir dimulai pada tahun 1997 sampai tahun 1999 munculah sosial media pertama yaitu Sixdegree.com dan Classmates.com. Tak hanya itu, di tahun tersebut muncul juga situs untuk membuat blog pribadi, yaitu Blogger. situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. sehingga pengguna dari Blogger ini bisa memuat hal tentang apapun.

Pada tahun 2002 Friendster menjadi sosial media yang sangat booming dan kehadirannya sempat menjadi fenomenal.

Tetapi pada tahun 1997-2002 media sosial masih belum dapat dirasakan dampaknya karena masih sedikit pengguna karena faktor alat akses yang masih begitu mahal seperti PDA, Komputer, dan Laptop.

Berbeda dengan facebook, karena kelahiran facebook di ikuti lahirnya benda canggih yang ada di genggaman orang-orang saat ini yang disebut ponsel pintar (smartphone),  seperti smartphone Blackberry, Iphone, dan Android.

Dengan lahirnya smartphone mulailah peningkatan yang nyata dari penggunaan internet di dunia. Dan semakin banyaknya perusahaan yang mengembangkan smartphone dengan harga yang relatif terjangkau. Sehingga ini menjadi kesempatan yang tepat untuk para pengembang media sosial unjuk gigi. Akhirnya mulailah bermunculan berbagai media sosial menyusul facebook  dengan berbagai karakter dan kelebihan masing-masing, seperti Instagram, LinkedIn, MySpace, Twitter, Wiser, Google+, Line, dan lain sebagainya.

Saya dan Media Sosial

Saya pribadi mulai menggunakan media sosial sekitar tahun 2009. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Karena penasaran banyak teman-teman SMA saya saat itu bercerita tentang media sosila dan bertukar informasi di media sosial, saya mulai membuat akun media sosial pertama saya di friendster. Suatu pengalaman baru dalam hidup saya dimana ternyata suatu hiburan tersendiri bermain di friendster bertemu dan berkenalan dengan teman baru meski terpaut jarak yang begitu jauh tetapi saya dapat berhubungan melalui media tersebut. Setiap pulang sekolah akhirnya saya mulai sering mampir ke warnet (Warung Internet) untuk bermain friendster meski hanya sekedar update status dan mengubah tampilan profile di friendster. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena saya mulai mendengar tentang facebook yang saat itu mulai booming dan akhirnya saya beranjak dari frindster ke facebook.

Saya akui facebook memliki daya tarik tersendiri. Meski dengan menggunakan facebook saya tidak dapat mengubah tamplan profil saya seperti di friendster tetapi saya merasa lebih nyaman di facebook karena tampilan pengguna (user interface) yang jauh lebih minimalis di banding frindster saat itu.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Dari akun facebook saya mulai penasaran dengan media sosial  lain seperti twitter. Akhirmya saya mulai menggunakan twitter juga. Tapi saya belum dapat memanfaatkan media sosial secara penuh karena saat saya masih SMA saya belum mempunyai ponsel yang mendukung akses internet, alih-alih smartphone, saya hanya memiliki ponsel nokia 3315 saat itu. Sehingga untuk menggunakan sosial media saya harus pergi ke warnet atau meminjam smartphone teman saya.

Akhirnya ketika saya lulus SMA, akhir tahun 2011 saya bisa membeli smartphone pertama saya. Mulailah saya bermain sosial media setiap hari. Menambahkan teman sebanyak mungkin, baik teman dari indonesia maupun luar negeri.

Semakin sering saya menggunakan media sosial semakin memunculkan pertanyaan besar dalam benak saya. Karena semakin kesini semakin aneh, semakin banyak keluhan-keluhan yang bermunculan di timeline saya kiriman dari teman-teman saya. Banyak juga propaganda, iklan, bahkan scammer, hoax, hingga informasi-informasi tak layak yang memperkosa pengguna untuk mengkonsumsi informasi tersebut. Itu yang saya fikirkan saat itu.

Hingga sempat saya memutuskan untuk menghapus akun facebook saya sekitar tahun 2012. kemudian pada tahun 2013-2014 saya mulai menggunakan media sosial kembali. karena saya sadar perkembangan teknologi tidak dapat di hindari karena semakin hari justru semakin berkembang pesat dan menjadi suatu kebutuhan untuk saling terhubung dan mengakses informasi.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata sperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan. Meskipun penemuan jati diri dalam menggunakan media sosial berlangsung lama bagi saya.

Dan pada dasarnya sosial media memiliki dua mata seperti mata pisau. Tergantung penggunanya, untuk dimanfaatkan dalam hal kebaikan yang bermanfaat atau keburukan yang merugikan.

Saya merenung dan memikirkan apa yang bisa saya manfaatkan dan saya bagikan di sosial media yang sekiranya itu bermanfaat bagi saya dan orang-orang yang terhubung dengan saya. Saya sadar saya tidak memilik paras yang tampan sehingga tidak dapat bersosial media seperti para artis media sosial. Saya juga tidak ahli dalam berpamer kemewahan karena hidup saya tidak lah mewah dan menurut saya kurang bijak juga jika saya berpamer kemewahan melalui sosial media karena itu sangat berbahaya, karena dapat menumbuhkan kecemburuan bagi pengguna internet, Dan kecemburan itu bisa mengakibatkan tindakan-tindakan menyimpang karena ingin merasakan kemewahan dengan cara instan.

Dalam perenungan itu akhirnya saya menemukan jawaban dari kerisauan saya dalam bermedia sosial yaitu “karya”. Memanfaatkan media sosial untuk ajang berbagi karya, dan menggali potensi yang ada dalam diri. Mulailah saya memikirkan karya apa yang bisa saya buat. Saya memulai dari apa yang saya sukai. Saya terus menggali dan ingat dulu sewaktu SMA say suka dengan musik, membentuk band dan ikut festival band di daerah. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat lagu. Berbulan-bulan saya mempelajari aplikasi untuk membuat lagu secara otodidak akhirnya sekitar tahun 2014 saya berhasil membuat satu lagu EDM dengan aplikasi frutyloop, yang kemudian saya unggah di soundcloud.

Karena keterbatasan alat, saya hanya memiliki komputer pentium 4 dengan ram 512 mb, yang saya dapat dari saudara saya. Sehingga saya rasa itu sulit untuk saya saat itu dengan kondisi yang serba terbatas. Akhir tahun 2015 saya baru menemukan jawaban yang menurut saya itu cocok untuk saya yaitu photography. Berawal dari saudara saya Iwan Resdianto, yang sering sibuk sendiri ketika liburan dengan saya untuk mendapatkan foto yang bagus yang selalu dia unggah di instagram, membuat saya mulai ikut mencoba menggunakan instagram.

Hanya foto-foto liburan dengan editing berlebihan dengan warna yang ke kuning-kuningan yang saya unggah di instagram. Sering mengikuti akun-akun di instagram dengan karya foto yang lebih bagus dari foto saya adalah pilihan saya untuk belajar meningkatkan karya foto saya, saat itu. Sehingga bertemulah saya dengan akun instagram Ilham setyawan. Dia adalah teman dari Iwan dan menurut saya saat itu karya-karya ilham bagus sekali. Sehingga saya menelusuri tentang siapa sebenarnya ilham setiawan. Dari informasi yang saya dapat dari Iwan, ilham bergabung di suatu komunitas fotografi berbasis instagram di semarang. Hal itu terdengar sangat bagus dan cerdas bagi saya. Dimana mencari kelompok yang memiliki ideologi yang sama, hoby yang sama untuk belajar, berbagi ilmu, dan pengalaman.

by dinprasetyo

© dinprasetyo

Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di komunitas yang sama dengan komunitas ilham. Dari sini mulailah perjalanan saya di dunia fotografi. Dan semenjak saya terjun untuk memilih berhobi di dunia fotografi menjadikan saya bersemangat berbagi karya di media sosial.

Dan semakin hari semakin banyak saya bergabung dengan komunitas-komunitas fotografi berbasis online, sehingga bertemulah saya dengan orang-orang hebat seperti Udatommo, Chris Tuarissa,  yang membimbing saya hingga karya-karya saya jauh lebih baik daripada awal-awal saya menggunakan instagram.

Semakin banyak teman sehobi yang saya temui semakin ilmu saya bertambah dan memantapkan saya untuk terus berkarya dan berkarya. Meskipun belum ada prestasi yang tampak dari karya fotografi saya, tetapi mengahasilkan foto yang jauh lebih baik dari foto terdahulu dan membagikan karya di sosial media dengan konsisten sudah termasuk hal yang harus saya syukuri dari hidup saya. Karena setidaknya kita telah membantu menebar benih-benih kreatifitas di media sosial, bukan hanya sekedar mengadu domba, dan menyebarkan konten negatif di media sosial.

 

Kesimpulan

Teknologi semakin hari semakin berkembang. Internet menjadi kebutuhan yang tak dapat di pungkiri. Hal itu mendukung peningkatan pengguna sosial media yang semakin bertambah. Dengan memanfaatkan media sosial sebagai media untuk berkarya dan menggali potensi dalam diri memungkinkan untuk menjadikan media sosial di penuhi dengan orang-orang kreatif dengan berbagai keahlian.

 

 

 

 

 

 

Artikel, Sharing,

Menata Ulang Idealisme

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

Jujur saja, dulunya saya termasuk ke dalam golongan orang yang malas bekerja. Dalam hal ini, bekerja saya artikan sebagai aktivitas memenuhi kebutuhan lahir. Bertahun-tahun menjalani kebanalan dunia korporasi nyaris tanpa mendapatkan kepuasan batin. Selalu ada saja hal-hal yang sengaja saya hadirkan untuk dibanding-bandingkan.

Guna menyeimbangkan, saya menggeluti fotografi sebagai hobi, sebuah aktivitas yang dilakukan manusia untuk tujuan kesenangan. Bermain-main layaknya anak kecil yang tidak mengenal tagihan. Di sini saya menemukan sebuah manifestasi yang sebelumnya belum saya kenal. Dua aktivitas pemenuhan kebutuhan lahir dan batin ini saya jalani berbarengan selama beberapa saat. Walaupun antara profesi dan hobi, masing-masing berseberangan bagai utara dan selatan, saya berusaha memegang kendali atas keduanya dengan berdiri di tengah-tengah.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 04

© Suryo Brahmantyo

 

Lama-kelamaan, saya lelah juga. Saya tidak mampu untuk memecah konsentrasi atas dua kutub kebutuhan ini. Efeknya, menoleh ke kiri dan kanan secara simultan membuat saya tidak fokus melihat ke depan. Sempat terpikir untuk meletakkan status pekerja kantoran, dan fokus mengubah hobi menjadi profesi, namun faktanya karya saya hanya bisa dinikmati untuk diri sendiri. Karena saya dianggap terlalu idealis dalam berkarya.

Idealis, idealisme. Kata-kata itu terus mengganggu. Hingga tidak bisa menghitung berapa cangkir kopi yang saya habiskan selama memutar-putar kepala. Hingga akhirnya saya memilih jalan keluar untuk menggunakan kata kunci ‘idealisme’ sebagai konsep dasar dalam membuat karya foto. Makna idealisme yang selama ini beredar di sekitar, menurut saya, lebih dekat ke egoisme. Cenderung subjektif dan kaku.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 06

© Suryo Brahmantyo

 

Saya memaknai idealisme sebagai bentukan dari kata dasar ideal. Sedangkan idealisme, kembali menurut saya, adalah sebuah usaha untuk mencapai sesuatu yang ideal. Anda mungkin akan mencibir, mana ada di dunia ini yang benar-benar ideal. Saya sepakat. Mungkin saja Anda benar. But the name also effort. Namanya juga usaha. Kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya. Yakin dulu saja. Lagi pula, ideal itu juga subjektif. Masih mengandung unsur ‘menurut teori apa’ atau ‘menurut siapa’.

Lalu apa ideal sendiri itu apa? Baiklah, sebelumnya saya harus berterima kasih kepada bagian diri saya yang lainnya karena telah mempertanyakan itu. Ideal merupakan hasil dari kesepakatan. Dalam hal bekerja, kesepakatan antara produsen dan konsumen demi tercapainya win-win solution. Saya senang, Anda juga senang. Ya, kurang lebih demikian makna idealisme bagi saya. Untuk mewujudkannya memang tidak akan semudah membalikkan tempe dalam wajan. Tapi saya percaya, solusi bersama akan jauh lebih mudah diraih ketika masing-masing pihak punya inisiatif untuk berkompromi.

Dengan membawa idealisme sebagai modal, saya membentuk sebuah usaha untuk merekrut tim, berkompromi dan berkarya bersama untuk mencapai efektivitas komunikasi dengan khalayak banyak.

Bintaro,
Mei 2016

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Artikel, Sharing,

Kritik Vs Apresiasi

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou)
All photos in this article copyrighted by Suryo Brahmantyo

 

Sebuah kutipan dari dosen Tomi Saputra (Udatommo) yang saya kutip dari tulisannya di blog, beliau udatommo.com berkata seperti ini:

Ketika kamu berkarya tidak perlu selalu mendengar kritik atau masukan dari orang lain. Belum tentu kritik itu benar. Bisa saja orang tersebut hanya iri dengan bagusnya karya kamu, atau bisa juga karena mereka tidak mengerti tentang karya kamu.

Kemudian Uda melanjutkan :

Tidak jarang kritikan yang masuk kepada anda bernada mendikte. Karya anda adalah diri anda sendiri, tidak ada orang lain yang mengenal karya tersebut kecuali anda sendiri.

Sejenak saya teringat ketika seorang teman bicara tentang budaya kritik di negeri ini. Ia bilang bahwa kritik cenderung dimaknai sebagai sebuah kecaman atau opini yang mengandung unsur ketidak sepakatan terhadap seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan kritik yang diterapkan oleh orang Eropa. Kritik, bagi mereka merupakan proses pemahaman terhadap sesuatu (misalnya; film dan musik). Mungkin saja benar bahwa ada perbedaan makna ‘kritik’ antara di sini dan di sana. Jika menilik pada penjelasannya, saya punya kosakata yang lebih pas; apresiasi.

Namun sepertinya apresiasi juga belum menjadi budaya populer di Indonesia. Di beberapa belahan lain di negeri ini, ada yang harus tumbuh dan berkembang dengan terpaan badai kritik yang cenderung mengecam. Ini bukan perkara salah atau benar, hanya saja orang seperti Andrew Neiman tidak benar-benar nyata. Yang menyedihkan jika mendapati seorang teman memutar haluan, memutuskan untuk drop out dari sebuah institusi pendidikan hanya karena dianggap tidak becus berkarya. Hal yang penting untuk disoroti di sini adalah soal alokasi waktu; berapa lama yang telah terbuang dan berapa lama yang dibutuhkan untuk belajar hal baru.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 03

© Suryo Brahmantyo

 

Melompat ke waktu lain. Di sebuah Minggu pagi, ketika itu saya berada di tengah sebuah diskusi fotografi. Dengan memanfaatkan lokasi di sebuah kedai makan, beberapa orang bergilir mempresentasikan karya hasil perburuan masing-masing beberapa jam sebelumnya. Dan pada bagian akhir, memberikan kesempatan kepada audiens untuk berkomentar.

Pada bagian akhir tersebut membuat saya kurang nyaman karena kekhawatiran saya terbukti benar. Sebuah forum yang tadinya saya harapkan menjadi wadah apresiasi justru menjadi ajang penilaian layaknya kontes adu bakat di televisi. Masukan-masukan yang disampaikan audiens cenderung sepihak. Kritik yang terlontarpun jamak bernada mendikte; memberikan rekomendasi untuk melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan terhadap dirinya, terhadap karyanya — bahkan tanpa diminta.

 

Suryo Brahmantyo - siboglou 02

© Suryo Brahmantyo

 

Sekilas hal ini memang remeh-temeh. Kritik, dalam hal ini sama seperti lemak pada tubuh; tidak banyak yang memperhatikan keberadan dan fungsinya. Keduanya sama-sama dapat memberikan efek negatif jika berkekurangan dan berkelebihan. Dengan porsi dan kondisi yang tepat, kritik juga dapat memberikan energi tertentu. Apa yang dilakukan Terence Fletcher terhadap Andrew Neiman dapat menjadi contoh.

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, dan tentu saja caranya pun beragam. Bisa jadi kontras dengan yang biasa kita lakukan. Dengan melihat karya orang lain dari sudut pandang sendiri bukan saja menjadikan kita egois, tapi juga menumpulkan pikiran untuk merangsang pertanyaan-pertanyaan. Terjawab atau tidak, itu bukan yang terpenting, karena klimaksnya ada pada pertanyaan yang terlontar.

 

Suryo Brahmantyo

Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook

Interview, Street photography,

Street Photographer Interview : Baskara Puraga

Sebelumnya silahkan perkenalkan diri anda ?

Perkenalkan nama saya baskara Puraga Somantri, biasa dipanggil Aga. Sehari-hari saya bekerja sebagai Sound Engineer. Dan fotografi biasanya menjadi pengisi waktu disaat luang meskipun kadang-kadang kebablasan juga dengan yang namnya fotografi ini.

Sejak Kapan anda mendalami fotografi?

Saya memiliki kamera pertama di sekitar tahun 2008-2009, tepatnya saya kurang ingat, yang jelas waktu itu diberi oleh kakak saya, DSLR Nikon D90. Namun mulai mendalami fotografi tahun 2012 semenjak menemukan analog bekas Bapak saya di rumah

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

 

Jika kami lihat karya-karya anda lebih ke street photography, bisakah memberikan sedikit argument tentang karya-karya anda?

Saya kurang paham juga jika dikategorikan, memang kebanyakan foto saya lakukan di jalanan dan di ruang publik, meski sesekali memotret di ruang privat. Medium fotografi untuk saya pribadi sangat cocok untuk menggali “diri” lebih jauh, mencari jawaban-jawaban dari banyak pertanyaan yang ada di kepala saya, dan bagaimana menyampaikannya ke publik yang lebih luas.

Siapa fotografer yang sangat menginspirasi karya-karya anda ?

Daido Moriyama, Nobuyoshi Araki, Klavdij Sluban, Arthur Bondar, Mario Giacomelli, Sergio Larrain, dan masih banyak lagi hahahaha…

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Selain aktif mengunggah karya-karya anda di media sosial anda juga produktif membuat photozine , apa sebenarnya  photozine itu?
Photozine menurut saya adalah versi “ringkas” jika dibandingkan dengan photobook. Photozine adalah salah satu penyaluran hasrat berkarya saya dan beberapa teman lainya untuk membuat sesuatu yang sifatnya fisik, Karena selalu ada perasaan berbeda saat menikmati karya dalam bentuk fisik.
Berapa photozine yang sudah anda buat, dan bisakah sebutkan judul dan sedikit sinopsis dari karya-karya tersebut?

Pseudo mind, A Momentary Lapse of (t) Reason, When The Sun Don’t Shine, dan Avaritia. Cukup panjang jika dibahas satu-satu, yang jelas kesamaan dari karya ini biasanya berupa kegelisahan pribadi akan pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di kepala saya sendiri, rasa sepi dan rindu, dan bagaimana saya sebagai “pengamat” dalam hiruk pikuk dunia perkotaan dan kesehariannya.

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Yang kami ketahui anda adalah member dari fotoemperan, bisakah ceritakan apa fotoemperan itu dan siapa founder dari fotoemperan ?

Fotoemperan adlah group kolektif fotografer, yang sampai saat ini masih sering berkumpul dan ngopi bareng. Kita belajar, Saling mengisi, dan tumbuh bersama sambil terus melakukan eksperimen, pembelajaran, pameran, dan hal lainya.

Apa visi dan misi kedepanya dari fotoemperan?

 

Fotoemperan ingin terus hadir di dunia fotografi, khusunya di indonesia untuk terus berkarya, bersilaturahmi, dan saling belajar dari teman-teman lainya yang juga menggunakan fotografi sebagai medium-nya.

Dan untuk founder nya yang jelas tidak satu, beberapa diantaranya adalah Tomi Saputra, Agung Rahmat Umbara, Ariq Rahadian, Arifan Sudaryanto, dll.

Menurut anda kriteria foto street yang bagus itu yang bagaimana?

Pertanyanya susah menjawabnya, yang jelas saya menyukai semua foto apapun yang memiliki kedalaman makna dan menimbulkan pertanyaan setelah melihatnya.

© Baskara Puraga

© Baskara Puraga

Selama anda mendalami fotografi, apa saja prestasi dan penghargaan yang sudah pernah anda dapatkan?
Saya kurang aktif dalam mencari penghargaan tampaknya hahaha, paling beberapa kali melakukan pameran, dan pernah juga karyanya di pamerkan di Vietnam, Malaysia, dan Jakarta. Selebihnya saya lebih tertarik belajar, Saya pernah mengikuti workshop yang di adakan Pannafoto institute dan Workshop fotografi bersama Klavdij Sluban.
Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?
Selalu perhatikan detail, cobalah memotret layaknya anak kecil yang diberi kamera, tidak usah terlalu dipikirkan ingin membuat foto seperti apa, lebih mengalir dan jujur saja
 Instagram: @agareds – www.baskarapuraga.com 
 
expressionism photography, Interview, Street photography,

Expressionism Photographer Interview : Agan Dayat

Muhammad Hidayat atau sering di panggil agan dayat adalah fotografer kelahiran Manado Sulawesi Utara. Beliau adalah salah satu fotografer fine art dan expressionism fotografi disamping street photography. Karya-karya nya juga sudah banyak di akui secara international diantaranya World street photograpy, kujaja dan street hunter. Beliau adalah ketua sekaligus pelopor komunitas Atjeh Street Project.

Silahkan perkenalkan diri mas dayat ?

Hai, Saya Hidayat tapi lebih sering di panggil dengan sebutan Agan, kalau mau dipikir tidak ada hubungannya dengan nama saya sendiri, tetapi yaa biarkan sajalah. Saya lahir 2 Januari 1982 di Manado Sulawesi Utara tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di Makassar dan Jakarta dan sekarang saya berdomisili di Banda Aceh dan bekerja sebagai staf di bangian Keuangan pada salah satu Instansi Pemerintahan. Memiliki seorang Putri yang cantik yang sekarang berusia 2,5 tahun hehehe.

Sejak kapan mas dayat mulai mendalami fotografi?

Mengetahui fotografi kalau tidak salah sejak tahun 2009 saya sudah memiliki ketertarikan di bidang fotografi  tetapi baru sekedar merasa tertarik dan sesekali meminjam kamera teman untuk mencobanya karena pada saat itu kamera Digital merupakan barang yang sangat mahal buat saya. Pada awal tahun 2015 saya mulai bisa dikatakan serius dan memiliki minat yang tinggi terhadap fotografi dan mulai mendalami apa itu Seni Fotografi dan sangat tertarik dengan fine art dan expressionism fotografi.

Expressionism Photography © Agan Dayat

 

Disamping mendalami fine art dan expressionism fotografi mas dayat juga mendalami street fotografi ya mas , menurut mas dayat street fotografi itu apa sih mas ?

Kalo boleh jujur saya mulai menyukai street fotografi baru belakangan ini, dan hingga saat ini cukup tertarik dengan street photography bisa dikatakan seperti itu.  Karena buat saya street photography merupakan sebuah tantangan dan kejujuran serta apa adanya, kalau saya katakan street photography itu tidak mahal (tidak memerlukan peralatan yang mahal) dalam hal ini menggunakan kamera smartphone pun bisa menghasilkan foto yang bagus, tetapi bukan juga murahan. Nah disinilah saya melihat bahwa street photography sangat menarik, dimana kita bisa mendapatkan sebuah foto yang menarik dengan kecepatan serta spontanitas. Kalau menurut saya secara pribadi street photography itu melatih saya untuk lebih jelih, lebih pekah dengan keadaan dan lebih pinter dalam melihat situasi dan menjadikannya dalam sebuah foto.

Siapa fotografer yang sangat menginspirasi karya-karya mas dayat ?

Saya merupakan salah satu orang yang baru mendalami fotografi dan bisa dikatakan sangat minim dengan referensi fotografer. Bahkan sejak memulai serius dengan fotografi baru di tahun kedua saya mulai mengetahui ada beberapa fotografer yang akhirnya menginspirasi saya hingga saat ini. Saya suka dengan Antoine D’Agata beliau merupakan salah satu fotografer yang kontroversial tetapi karya-karya beliau kuat dan sangat menginpirasi saya, beberapa pemaknaan dan pandangan beliau terhadap fotografi sangat saya sukai. Jacob Aue Sobol juga merupakan fotografer inspirasi buat saya, sejak pertama saya melihat beberapa karya-karyanya yang emosional dan memiliki karakter yang kuat serta BW yang pekat seperti ada koneksi dengan saya karena saya juga tertarik dengan foto-foto seperti beliau. Beberapa fotografer seperti  Trent parke, Michael Akerman, Rinko Kawauchi, Shorab Hura, Stavros Stamatiou, Nan Golding, Roger Ballen, Daido moriyama, Nobuyoshi Araki saya sering menghabiskan beberapa waktu khusus untuk melihat foto-foto mereka dan membaca profil serta mencatat beberapa pandangan mereka tentang fotografi dan pemaknaan mereka terhadap foto. Tidak bisa dipungkiri juga teman-teman Fotoemperan teman ISP juga banyak memberi dampak terhadap perjalanan saya mengenal dan mendalami fotografi. Om chris Tuarissa dan om Sam lah yang membuat saya mengetahui pendekatan street photography itu seperti apa heheh. Mas Aji susanto Anom juga merupakan salah satu fotografi panutan saya, dan bisa dikatakan beberapa karya-karya beliau sangat mempengaruhi saya, hemnn…  sepertinya sangat banyak dan masih sangat banyak hahahha.

Apa sih perbedaan dari street photography dan expressionism atau personal photography mas?

Hemn.. Buat saya ini pertanyaan yang sederhana tapi merupakan pertanyaan yang sangat sulit buat saya, semoga saya bisa menjawab.

Berbicara perbedaan antara street photography dengan personal photography menurut saya perbedaannya lebih kepada pendekatannya. Kalau street photography seperti yang sudah saya jawab di pertanyaan sebelumnya. Menurut saya berbicara tentang personal photography berarti penekanannya dan penyampaiannya lebih bersifat sangat pribadi karena berbicara personal, visual yang ditampilkan atau disampaikan juga lebih subjektif dan bersifat personal,  kita bisa menceritakan tentang apa saja baik itu pengalaman secara pribadi, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya. Dalam personal photography tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya secara konseptual dan ini pastinya bertolak belakang dengan street photography yang tidak boleh di konsep atau diarahkan. Street photography juga terkadang bisa sangat subjektif, karena apakah ada bener-benar foto yang objektif ? itu tergantung dari penikmat foto yang dapat melihatnya. Karena setiap foto pasti memiliki emosi baik itu foto yang bagus dan tidak bagus menurut penikmat foto yang menikmatinya dan semua memiliki emosi yang lahir dari si pemotret. Disini saya mengambil contoh dari diri saya sendiri dan pengalaman saya sendiri atau pemikiran saya sendiri. Buat saya street photograpy melatih saya untuk lebih pekah terhadap keadaan pada saat berada diruang publik, melatih kejelian dan kepinteran dalam merekam sebuah kejadian yang ada, Tetapi buat saya mengerjakan personal photography atau personal project lebih dari dari itu sangat melibatkan perasaan, melibatkan emosi yang dalam bahkan berimajinasi. Semoga bisa menjawab.

Dari informasi yang kami dapatkan mas dayat ketua sekaligus pelopor dari atjeh street project ya mas jika berkenan boleh mas sedikit ceritakan apa itu aceh street project mas?

ASP atau Atjeh street project merupakan sebuah komunitas yang berfokus pada street photography dan lebih menjadi wadah dan informasi terkait street photography khususnya di Daerah Aceh dimana saya berada saat ini. Karena di Aceh sendiri ada banyak komunitas fotografi tetapi ASP mungkin bisa dikatakan komunitas atau wadah yang pertama yang berfokus pada street photography.

Apa visi dan misi dari atjeh street project mas,dan mungkin bisa di ceritakan sedikit kisah yang melatar belakangi terbentuknya atjech street mas?

Seperti yang saya katakana tadi, di Aceh sendiri sangat banyak komunitas fotografi, tetapi belum benar-benar ada satu kamunitas atau perkumpulan yang berfokus pada street photography, dengan pengamatan ini maka ASP lahir dan hadir untuk memperkenalkan pendekatan street photography dan menjadi wadah Informasi tentang Street Photrography. Bagaimana ASP bisa memperkenalkan Aceh melalui pendekatan Street Photography.

Bagaimana menurut mas dayat perkembangan street photography di indonesia mas ?

Untuk Pertanyaan ini sepertinya saya belum berani untuk memberikan Jawaban. Hahahhaha. Yang pasti yang saya tau dan lihat sangat berkembang, ya itu saja !

Menurut mas dayat kriteria foto street atau personal fotografi yang bagus itu yang bagaimana mas?

Kemarin saya baru berbincang-bincang dengan Mas Aga (Baskara Puraga @agareds ) dan beliau memberikan sebuah pertanyaan yang membuat saya kembali berfikir, kira kira seperti ini “menurut Om Agan mana foto bagus dan mana foto jujur “ ? jadi menurut saya foto yang bagus itu ya foto yang jujur, Apalagi berbicara personal fotografi ya foto-foto yang bisa menyampaikan kejujuran dan tidak banyak berfikirnya dan bisa mengetahui diri kita dalam foto tersebut. satu lagi perkataan Beliau bedakan antara bagaimana membuat sebuah foto dan mengambil sebuah foto. Nah, kalo ditanya kriteria setiap orang punya kriteria masing-masing baik itu street photo ataupun personal photo

Selama mas dayat mendalami fotografi, apa saja prestasi dan penghargaan yang sudah pernah mas dayat dapat kan mas ?

Kalo penghargaan dan prestasi siy bisa dikatakan belum ada, hanya beberapa nominasi dari beberapa situs seperti World street photograpy, kujaja dan street hunter.

Adakah beberapa tips untuk teman-teman yang mungkin mau atau sedang mendalami street photography khususnya di indonesia?

Bukan tips tetapi lebih kepada pengalaman, banyak melihat, banyak membaca dan banyak memotret. Satu lagi tetap memotret dalam keadaan apapun yang sedang kita alami atau rasakan, karena bisa saja foto terbaik kita lahir dari keadaan saat itu.

Street Photography © Agan Dayat

 

 

Website dan Medis Sosial

www.agandayat.com

www.instagram.com/agandayat

www.instagram.com/agan_dayat

www.facebook.com/agandayat