Author

Free Download,

Transition Pack #1 : Distorted Roll & Switch, Flash, Flat Roll Premiere Pro Included Swoosh Sound Effect

Transition Pack #1 : Distorted Roll & Switch, Flash, Flat Roll Premiere Pro Included Swoosh Sound Effect.

PROJECT FEATURES:

  • Premiere Pro CS / CC compatibility
  • Full HD(1920×1080) resolutions included
  • Distorted Roll Transition : 4 Style
  • Distorted Switch Transition : 8 Style
  • Flash Transition : 5 Style
  • Flat Roll Transition : 4 Style
  • Swoosh Sound Effect included!


Download Transition Pack #1 + Swoosh Sound Effect

Artikel, Interview, Sharing,

Galih Rudianto : Realita Kamera Analog Di Era Digital

Halo mang Galih, gimana kabarnya nih mang? dan bagaimanakah kabar Bandung dan dunia fotografinya mang?

Halo mas, baik alhamdulillah kabar keluarga dan teman-teman di Semarang baik kan?

hmm… Kalau dunia fotografi di bandung berjalan seperti biasanya, beautyshot masih banyak di gandrungi, street fotografi masih berjalan seperti biasanya.

 

© Galih Rudianto


© Galih Rudianto

 

Alhamdulillah saya dan Semarang baik mas hehe, Ngomong-ngomong masih sering motret mang?

Syukur kalau tetap pada keren mas. hehe

Kalau sering sih lagi turun-naik mood nya mas, soalnya kalau motret lagi tidak mood, tetap memaksakan jalan, suka berantakan, apalagi saya motret pake film malah jadinya buang-buang frame, jadi kalau saya di tanya, “masih sering motret?” mungkin jawabnya tergantung mood saya.

Bisa aja nih mang Galih haha, Sudah berapa lama mang Galih motret pake kamera analog/ film mang ?

Jam terbang yak wkwkw, klo motret sih dari jaman sekolah dulu cuman kalau lebih spesifik main film, kalau ga salahdari bulan september 2014.

Berarti sebelumnya pernah memakai kamera digital ya mang? gimana critanya sih mang kok tertarik dengan kamera film?

Iyaps, dulu pakainya digital D5100+50mm, kalau photowalk motret-nya banyak sampe dirumah capek sendiri kurasi file. hahaha
Belum edit belum sizing file di PC, semakin banyak akhirnya curhat nih sama senior fotografer di bandung, dia langsung memberi saran
“kalau kamu memang malas dasarnya, tapi tetap ingin motret, coba pake film, disitu kamu bisa tanggung jawab apa yg sudah kamu potret.”
Nah, dari situ perasaan ingin tahu tentang kamera film dan film nya mulai muncul, mulailah saya berburu kamera2 tua di loakan dengan cuman modal kepo. hehehe

 

© Galih Rudianto


© Galih Rudianto

 

Hal pertama yang mang galih rasakan apa, ketika awal transisi dari kamera digital ke kamera film? dan kalo boleh tahu kamera film pertama mang galih apa mang ?

Hal pertama yang saya rasakan saat transisi pasti adalah ingin cepat-cepat lihat hasil dari foto yg saya ambil dengan kamera film . Lucunya saat itu saya cuma pakai kamera Yashica GSN yang auto-nya mati otomatis speed shutter cuma 1/60 saja. Alhasil under exposure semua. hahaha

Roll film yang mang galih gunain pertama kali apa mang?

Kalau roll yang putus dan kebakar dihitung tidak? hahahaa.
Sebenernya roll pertama itu pakai Kodak Color Plus 200 tapi ditengah proses karena terlalu excited jadi putus. hahaha

Roll kedua pakai KCP juga dan pertama motret bareng fotoemperan waktu itu.

 

Nah, untuk developing film di era sekarang ini kesulitan tidak mang?

Develop film mungkin buat saya yang tinggal di Bandung, masih dibilang aman dan gampang. Tapi buat teman-teman yang lain yang pakai kamera film di luar kota yang pada dasarnya memang tidak ada lab di kotanya mungkin harus mempertimbangkan biaya cuci scan film.

Mungkin klo cuci BW bisa belajar, asal ada alat yang dipergunakan untuk proses film.
Untuk yang color soalnya tidak bisa di cuci sendiri dengan alat yg biasa di pakai buat cuci black and white.

 

© Galih Rudianto

 

Kenapa alat cuci black and white tidak bisa digunakan untuk mencuci color? Berarti cuci color black and white lebih simpel ya mang? Dan kalau boleh tahu, mang galih harus merogoh kocek berapa untuk develop satu roll film di lab?

Kenapa tidak bisa cuci color dengan alat rumahan, karena film warna suhunya harus sesuai dan ketika proses developing suhu harus stabil maka harus pakai mesin yang bisa membuat suhu tetap stabil.

Yap cuci black and white adalah yang paling wajib dipelajari kalau mau main fotografi dengan kamera film.

Sekarang rata-rata sama mau color atau black and white biaya buat cuci scan disekitar Rp. 50.000-an.
Untuk film ukuran 35mm kalau 120mm paling tambah Rp. 10.000 dari harga diatas.

Wah lumayan juga ya mang, dengan proses yang panjang dan kocek yang lumayan apa yang mang galih pertama rasakan mang?

Iya juga ya,hahaha. Mungkin hal dasar dari semua yg sudah saya lakukan, motret pake film adalah kepuasan batin saja mungkin mas, dan rasa tanggung jawab apa yang sudah saya take frame. Mau hasilnya under, over, shake, blur, missed, atau komposisi yang jelek sekalipun itu yang saya dapatkan. Face it, you cannot photograph!.
Dan d roll kedepannya harus lebih baik lagi biar tidak terbuang sia-sia uang yang sudah kita gunakan untuk membeli roll film.

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Selama ini berarti dengan kamera film mang galih hanya untuk sekedar hobi ya mang, pernah tidak kefikiran ke ranah komersil? Possible tidak menurut mang galih dengan kamera film ke ranah itu?

Yap, saya motret cuma buat hobi saja mas. dan tidak ada niatan buat  sesuatu yang komersil dari kamera film saya.

Dan kalau possible, itu possible sekali kamera film dibawa ke ranah komersil. Ada kok teman yang motret komersil pakai kamera film. Kebanyakan prewed sama beauty shot, cuma kalau buat dokumentasi masih jarang pake film.

Jika kami perhatikan peminat kamera film dewasa ini malah semakin meningkat ya mang, terlihat dari komunitas-komintas kamera analog yang semakin banyak, bagaimana pendapat mang galih tentang itu?

Rame sih, beberapa bulan ke belakang penjualan film dan kamera nya meningkat drastis, dilihat dari segi harga per kamera yang di jual semakin kesini semakin mahal (demand-nya tinggi) dan karena kamera analog termasuk barang collectible jadi ga ada harga pasarannya,
“Mau ya beli, ga mampu yowis!”

Tapi masih banyak yang pakai kamera film dan tidak dibarengi sama knowledge tentang kamera film tersebut. Alih-alih cuma ikut tren dan akhirnya banyak keluhan-keluhan dari mereka.

Bicara masalah knowloedge , hal-hal apa saja yang wajib diketahui bagi pengguna kamera film/ analog mang?

Masalah dasar sekali sebenarnya ini, yaitu segitiga exposure kalau itu dikuasai pasti mau pake kamera apapun joss!.

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Secara teknis penggunaan segitiga exposure di kamera analog perbedaan yang paling tampak mencolok dimana mang selain memang di analog serba manual?

Light metering yg paling jadi pembahasan utama kalau ada diskusi tentang film photography.
Karena kebanyakan kamera film manual itu sudah tua umurnya, maka terkadang jadi kurang sensitif terhadap perhitungan cahaya yang masuk ke lensa atau metering di kamera, maka ada kalanya kita harus pandai memanfaatkan alat yang lain (misal aplikasi light meter di HP atau light meter itu sendiri).

Kurang effisienya light metering tersebut apa itu tidak mengganggu kenyamanan mang galih dalam hunting foto mang ?

Kalau saya pribadi ya itu tadi ngakalin-nya pake app di HP sebelum motret. Light metering diusahakan dapet 18% grey, motret deh! Hahaha

Kalau masuk shadow tinggal kurangin speed atau diafragma kalau highlight berlimpah, vice aversa!

Tapi dulu pakai kamera yang kebetulan light meter-nya sedikit akurat jadi sedikit hafal kondisi cahaya kalau pake film tertentu.“Bisa karena terbiasa!.”

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Maksud dapat 18% grey itu seperti apa, sedikit diperjelas mang ?

Kurang lebih middle gray untuk mencari correct exposure suatu scene supaya shadow tetap ada highlight tidak clipping, begitu kira-kira. Kalau mau lebih jelas bisa googling tentang greycard.

Kemudian kita berlanjut ke roll film mang ,apakah yang perlu diperhatikan ketika memilih atau mau memakai roll film mang?

Hmm… apa ya, ekonomis kali hahaha. Supaya banyak motret-nya dan tidak ada perasaan guilty kalau frame gagal.

Mungkin bisa saja kalau mau ngejar toning film A ya harus pakai film A.
Kalau buat black and white  lebih ke karakter emulsi-nya, kalau milih film ada yang fine grain ada yang grainy parah tergantung selera sihh!.

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Masalah penyimpanan roll film nih mang, hal-hal apa saja yang perlu di perhatikan?

Suhu sihh!. Cukup di suhu yang stabil kalau mau disimpen di kamar, jangan kepanasan dan jangan lembab.
Kalau untuk pemakaian jangka panjang taruh di kulkas di fruit/vegie container saja cukup.

Baik mang galih, untuk ketahanan maximal sampai berapa lama sih mang ketahanan dari roll film jika kita menggunakan prosedur penyimpanan seperti yang mang galih sampaikan ?

Kalau ketahanan film biasanya ada tanggal expired-nya di film yang kita simpan, kalu sudah expired meskipun film nya kita simpan sesuai prosedur, ya jadi jelek juga emulsi-nya.

Dari seluruh roll film yang mang galih hasilkan planing mang galih apa mang kedepanya?

Wooow pertanyaanya makin sulit. Framing yg sudah ada dan film yang sudah di develop mau diapakan yaah! Hahaha.
Jujur saja saya motret masih belajar dan sekedar hobi, ya mungkin dikumpulkan saja mas. Dan lihat progres saya belajar motret dari roll ke roll. (bukan rock and roll ya!) hahahha

Soalnya gimana ya, motret masih merasa kurang.
Ada hasil-hasil printing yang dipajang di rumah dan saling tukar print sama teman-teman yg lain biasanya.

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Kamera digital semakin hari semakin canggih mang, pernah tisak terfikir untuk kembali ke kamera digital lagi? Atau mang galih ingin tetap bertahan berkarya dengan kamera film ?

Mungkin kalau untuk kerja, pasti butuh teknologi terbaru. Supaya bisa mempercepat proses kerja kita jadi lebih efisien.

Tapi kalau untuk hobi. Saya mungkin bertahan di film saja. Soalnya selain saya suka barang-barang vintage, Saya juga sekarang ini belum membutuhkan kamera digital kali yah! Hahaha.
Mungkin someday kalau film sudah susah didapatkan pasti pindah ke sensor digital.

 

© Galih Rudianto

© Galih Rudianto

 

Baik mang galih, berarti intinya mang galih memilih kamera film bukan karena trend tapi memang suka dan passion-nya disitu ya mang, sekarang mungkin ada gak nih pesan-pesan buat para pengguna kamera film/analog atau yang mungkin mau nyoba berpindah ke kamera film mang galih ?

Hmm…!, Tidak menutup kemungkinan besok saya jadi pakai digital lagi tapi buat sekarang stick to film, karena masih panjang proses belajarnya, hahaha.

Pesan-pesan ya?. Waduh da saya teh siapa atuh dimintain pesan segala da masih anak bawang yang belajar motret. Hahaha.
Ya, mungkin film atau digital sama saja, semuanya cuma media saja, yang terpenting handling dari alat yg kita punya maksimalkan.

Kalau mau sekedar coba-coba dulu lebih baik pinjam dulu dengan yang punya kamera film.
Hal yang harus dipertimbangkan banyak soalnya, Jadi dari pada mengeluarkan modal untuk beli kamera mending pinjam dulu saja, dan coba rasakan kalau memang disitu passion-nya, go for it!.

 

© Galih Rudianto

Galih Rudianto

Instagram : @ssendaljepitt

 

 

Artikel, Interview, Street photography,

Photographer Interview : Tawanwad Wanavit From Thailand

Bisakah Anda memperkenalkan diri anda?

Hai, saya Tang Tawanwad Wanavit. Saya saat ini berusia 27 tahun, bekerja sebagai sinematografer di Thailand, tetapi saya jatuh cinta pada fotografi. Saya telah memotret fotografi jalanan selama 2 tahun sekarang.

Could you please introduce yourself?

Hi, I’m Tang Tawanwad Wanavit. I’m currently 27 years old, working as a cinematographer in Thailand, but I fell in love with photography. I’ve been shooting street photography for 2 years now.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Apa kenangan masa kecil Anda terhadap seni?

Orang tua saya adalah seniman sehingga mereka menyukainya ketika saya melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni, saya sangat senang melakukan sesuatu yang mereka banggakan. Mereka selalu mendorong saya untuk melukis, menggambar, dan bahkan menari ketika saya masih muda, jadi di satu sisi, saya selalu berada di sisi baik seni.

What is your childhood memories towards the arts?

My parents are artists so they love it when I do something art related, I’m very happy to do something that they’re proud of. They always encourage me to paint, draw, and even dance when I was young, so in a way, I’m always on the good side of art.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Apa yang pertama kali menarik Anda ke fotografi dan bagaimana Anda menemukannya?

Hal pertama yang harus saya akui, adalah gagasan untuk menjadi keren. Saya pikir itu terlihat keren untuk berjalan membawa kamera, saya terinspirasi oleh karya Tavepong Pratoomwong dan dia sangat keren dengan foto-fotonya. Ide itu tidak melekat pada saya sangat lama, kemudian saya menjadi bosan untuk berusaha keras untuk menjadi keren untuk mengesankan orang lain, saya kemudian tertarik pada gagasan eksperimen.

What first drew you to photography and how did you discover it?

The very first thing I have to admit, it was the idea of being cool. I thought that it looks cool to walk around carrying a camera, I was inspired by Tavepong Pratoomwong’s works and he’s very cool with his photos. That idea didn’t stick to me very long, later on I became bored of trying so hard to be cool to impress other people, I then become attracted to the idea of experiments.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Apa yang membuat fotografi jalanan begitu spesial untuk Anda?

Fotografi jalanan benar-benar tempat bermain bagi saya. Ini sangat istimewa karena memiliki begitu sedikit aturan dan begitu banyak ruang untuk bermain. Saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan, biasanya ketika saya ingin tahu tentang bagaimana foto akan terlihat jika saya melakukan sesuatu, saya bisa melakukannya!

What makes street photography so special for you?

Street photography is literally a playground for me. It’s so special because it has so little rules and so much room to play. I can do anything I want, usually when I’m curious about what the photo would look like if I do something, I can just do it!

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Apa perbedaan yang diciptakan fotografi dalam hidup Anda?

Ini menciptakan obsesi besar bagi saya, dan saya tidak bisa berhenti melakukannya. Tidak peduli betapa lelahnya saya, betapa sibuknya saya, saya selalu punya waktu untuk fotografi. Itu adalah sesuatu yang harus saya lakukan untuk melepaskan energi saya. Saya melihat dunia secara berbeda, dan saya menjadi semakin sensitif terhadap apa yang terjadi di sekitar saya.

What difference does photography create in your life?

It creates this huge obsession for me, and I cannot stop doing it. No matter how tired I am, how busy I am, I always have time for photography. It’s something I need to do to release my energy out. I look at the world differently, and I become more and more sensitive to what’s going on around me.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Bagaimana Anda tahu ketika sesuatu, seseorang, atau beberapa tempat layak untuk difoto?

Jika saya melihat itu lebih dari satu kali, atau saya berhenti dan melihatnya, maka ada baiknya untuk mengambil foto.

How do you know when something, someone, or some place is worth shooting?

If I look at it more than once, or I stop and look at it, then it’s worth shooting.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan koneksi Anda dengan subjek Anda?

Ini adalah sesuatu yang menjadi masalah saya di masa lalu, saya takut pada orang-orang dan hewan yang saya potret karena saya selalu berpikir bahwa mereka akan menyerang saya, Jadi bahasa tubuh saya selalu menunjukkan bahwa saya gugup ketika saya mendekati mereka, Jadi mereka selalu merasa bahwa saya melakukan sesuatu yang tidak saya yakini dan mungkin sesuatu yang buruk. Kemudian, saya mencoba berteman dengan mereka. Ketika saya memotret, Saya banyak tersenyum, bukan karena saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya ramah, tetapi saya lebih bersenang-senang ketika saya memotret. Ketika saya berpikir mereka adalah teman saya, kebanyakan orang dan hewan merasakannya, dan mereka tidak keberatan saya memotret, tetapi tentu saja, ketika saya memotret mereka ketika mereka tidak sadar, dan mencaritahu setelahnya, itu bisa menjadi beberapa konflik.

How do you describe your connection with your subject matter?

This is something I have problem with in the past, I was scared of the people and the animals I shoot because I always think that they would attack me, so my body language always show that I’m nervous when I go near them, so they always sense that I’m doing something I’m not confident of and it’s probably something bad. Later on, I try to be friends with them. When I shoot, I smile a lot, not because I want to show them that I’m friendly, but I have more fun when I shoot. When I think they’re my friends, most people and animals kinda sense it, and they don’t mind me shooting, but of course, when I shoot them when they’re not aware, and found out later, there could be some conflict.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Gear anda?

Lumix GX9 dengan lensa 15mm dari Leica Summilux DG, dibuat untuk Panasonic.

Your gear?

Lumix GX9 with 15mm lenses from Leica Summulix DG, made for Panasonic.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Satu hal yang selalu kamu ingat di jalanan?

Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak membawa kamera sampai saya menyusun gambar kasar di kepala saya terlebih dahulu, kadang-kadang momen itu bisa hilang jika saya memunculkannya terlalu cepat.

One thing you always make sure to remember on the streets?

I always remind myself to not bring the camera up until I compose a rough image in my head first, sometimes the moment could be gone if I bring it up too fast.

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

Fotografer mana yang menginspirasi Anda?

Tavepong Pratoomwong menginspirasikan saya ke dalam fotografi jalanan, kemudian saya memiliki era obsesi flash saya, yang dimulai dari tahun ini. Gavin Bragdon, Gareth Bragdon, Salvatore Matarazzo, dan Barry Talis sangat menginspirasi saya.

Which photographers inspire you?

Tavepong Pratoomwong inspired me into street photography, then I have my flash obsession era, which started from this year. Gavin Bragdon, Gareth Bragdon, Salvatore Matarazzo, and Barry Talis inspired me a lot.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Anda punya buku favorit tentang fotografi?

Minutes to Midnight karya Trent Parke adalah favorit saya sepanjang masa.

You have any favorite books on photography?

Minutes to Midnight by Trent Parke is my all time favorite.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Menurut Anda, bagaimana teknologi mengilhami kreativitas dalam fotografi?

Saya pikir semakin banyak teknologi, semakin banyak kemungkinan. Saya selalu bersemangat untuk teknologi baru. Jika Anda bertanya kepada saya tentang batasan apa yang baik untuk fotografi jalanan dan apa yang akan saya katakan, Fotografi adalah tentang memanipulasi dan menangkap cahaya. Jika teknologi yang Anda gunakan adalah tentang memanipulasi lampu, ada baiknya datang pada saya.

How do you think technology inspires creativity in photography?

I think the more technology, the more possibilities. I’m always very excited for new technologies. If you ask me about the limits of what’s okay for street photography and what’s too much I would say, Photography is about manipulating and capturing lights. If the technology you use is about manipulating the lights, it’s good to go for me.

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Prestasi apa yang telah Anda dapatkan selama karier Anda dalam fotografi?

Miami Street Photography Festival 2015 – Finalist

Street Foto San Francisco 2016 – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2017 – Finalist

Observe Collective, Down by the River, Iserlohn Germany Contest – 1st Place

Street Foto San Francisco 2017 – Finalist

Street Foto San Francisco 2018 – Finalist

London Street Photography Festival 2018 – Finalist

Bangkok Street Photography Festival – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2018 – Finalist

Italian Street Photo Festival 2018 – Finalist

What achievements have you gained during your career in photography ?

Miami Street Photography Festival 2015 – Finalist

Street Foto San Francisco 2016 – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2017 – Finalist

Observe Collective, Down by the River, Iserlohn Germany Contest – 1st Place

Street Foto San Francisco 2017 – Finalist

Street Foto San Francisco 2018 – Finalist

London Street Photography Festival 2018 – Finalist

Bangkok Street Photography Festival – Finalist

Brussel Street Photography Festival 2018 – Finalist

Italian Street Photo Festival 2018 – Finalist

 

© Tawandwad Wanavit

© Tawandwad Wanavit

 

Ada tips untuk calon fotografer jalanan di luar sana?

Saya merasa seperti saya masih sangat baru juga, tetapi jika ada beberapa saran yang dapat saya berikan, itu harus tentang mengelola emosi Anda terhadap perhatian yang diberikan orang kepada Anda. Ada periode di mana saya mendapat begitu banyak perhatian dan saya terobsesi dengan itu saya menjadi serakah. Selalu waspada dengan apa yang terjadi di jalur Anda, dan hargai apa yang Anda miliki saat ini.

Any tips for aspiring street photographers out there?

I feel like I’m still very new too, but if there’s some advice I can give, it has to be about managing your emotion toward the attentions people give you. There was a period where I got so much attention and I was obsessed with it I become greedy. Always be aware of what’s going on in your path, and appreciate what you have in the present time.

Tang Tawanwad Wanavit

Instagram : tang_tawanwad
Facebook : tang tawanwad wanavit

Free Download,

Glitch Transition Pack For Premiere Pro Sound Effect Included

Glitch transition Pack For Premiere Pro Sound Effect Included

PROJECT FEATURES:

  • Premiere Pro CS / CC compatibility
  • Full HD(1920×1080) resolutions included
  • 4 Glitch transition
  • Sound Effect included!


Download Glitch Transition

Download Glitch Sound Effect

Free Download,

Sam Kolder Smooth Transition Premiere Pro Free Download

Now, i will share smooth transition which sam kolder use in his video.
But before it, don’t forget to subscibe and share this channel because i will share more preset and templates of premiere pro. If i reach 1000 subscriber i will share after effect template too.


Download


Find me on
http://instagram.com/dinprasetyo
http://instagram.com/din.isme
http://dinprasetyo.com
http://twitter.com/dinisme
http://flickr.com/photos/dinprasetyo

Traveling,

Traveling To Mount. Bromo Jawa Timur

Traveling To Mount. Bromo Jawa Timur

Perjalanan melalui pintu barat dari arah Pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat objek wisata (lautan pasir) terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan ke arah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa mobil jeep yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk Probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa Cemoro Lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan matahari terbit yang sering ditampilkan di foto-foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka lebih praktis melewati jalur pintu barat.

Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota Pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan di mana ke arah selatan akan memasuki Ranu Pane (ke arah Gunung Semeru) dan ke arah utara anda memasuki lautan pasir Bromo yang berada di punggung Gunung Bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari Gunung Bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada di balik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondisi seperti ini.

Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari Gunung Bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tetapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.

Berlibur menuju Bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2-3 pagi. Di mana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat matahari terbit. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap-siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak Bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan di areal lautan pasir di tengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan (apalagi di tengah kabut tebal), tunggulah karena biasanya mulai jam 2-3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas di area lautan pasir.

Location : Bromo, Selecta, Malang, Jawa Timur (Sam Kolder Inspired)

Song by Illenium – Lost https://soundcloud.com/illeniumofficial/illenium-lost-ft-emilie-brandt

Find Me on
http://instagram.com/dinprasetyo
http://instagram.com/din.isme

Traveling,

Pacitan Pantai Kasap

Location : Pacitan, Jawa Timur, Indonesia

Edited by: dinprasetyo
Video by : dinprasetyo & Iwan Resdianto
Backsound : OST. Swiss Army Man

Find me on
http://instagram.com/dinprasetyo
http://instagram.com/din.isme
http://flickr.com/photos/dinprasetyo