Blog Archives

© dinprasetyo
Artikel, Sharing,

Berkarya Untuk Siapa?

Malam itu salah seorang teman mengajak untuk ngopi di salah satu cafe di Banyumanik, Semarang. Saya sempat diam sejenak ketika mendengar ajakan teman saya tersebut, karena teringat pekerjaan yang masih menumpuk dan deadline pekerjaan yang semakin dekat. Kabar baiknya, kebetulan juga sebenarnya saya ada rencana ingin bertemu dengan salah seorang teman di semarang untuk berdiskusi soal website. Akhirnya, saya terima ajakan teman saya tersebut sekaligus menemui teman saya di salah satu cafe di daerah Banyumanik, Semarang.

Seperti kebanyakan penggiat fotografi pada umumnya, saya beserta teman-teman terkadang meluangkan waktu untuk sekedar ngopi sembari rasan-rasan tentang fotografi. Hal ini sudah menjadi adat bagi kami untuk mempertahan semangat dalam berkarya dan bertukar fikiran seputar fotografi.

Copyright dinprasetyo

Copyright dinprasetyo

Pembahasan malam itu mulai menarik, ketika salah seorang teman saya mencurahkan kegundahanya tentang karya-karyanya yang menurutnya seperti tidak ada dirinya dalam karya fotografinya. Padahal, karyanaya sudah pernah menjuarai salah satu kompetisi fotografi bergengsi di indonesia yang di adakan setiap tahun. Akan Tetapi, Dia kehilangan kenikmatan dalam fotografi seperti ketika awal-awal menegnal fotografi. Dimana, dulu Dia berkarya merasa lebih nyaman tanpa terlalu memikirkan berbagai macam hal, salah satunya penerimaan dari orang lain tentang karyanya. Hal tersebut bukan berarti mencari penerimaan itu salah lho!. Semua tergantung dari tujuan kita masing-masing dalam berkarya. Contohnya, jika kita menjadi fotografer freelance maupun fotografer profesional  sudah pasti kita menghasilkan foto harus sesuai yang di harapkan oleh client kita, karena kita mendapatkan fee untuk hal tersebut.

Dalam konteks ini kita bisa melihat pada industri musik. Banyak band-band besar yang beralih dari major label ke indie label. Salah satu contohnya Sheila On 7 , Pada album ke-8 mereka yang berjudul “Musim yang Baik”, mereka lebih memilih indie label, kenapa?. Alasan utamanya, karena mereka merasa kecewa dengan major label yang mengubah konsep album ke-8 mereka berbeda jauh dari yang sudah mereka rencanakan.

Major label adalah perusahaan bisnis, wajar saja mereka seperti itu karena memang orientasi mereka adalah profit. Orientasi mereka adalah bagaimana memenuhi permintaan pasar saat ini untuk meraup profit. Sedangkan, Sheila On 7 adalah para seniman yang tidak hanya ingin mendapatkan profit saja tapi bisa menyalurkan karakter music mereka secara utuh dan terkadang mereka ingin observasi untuk lebih meng-explorasi gaya bermusik mereka dan itu tidak akan bisa jika mereka masih berada di major label yang lebih mengutamakan pasar dibandingkan nilai seni dari Sheila On 7.

Begitupun, yang dialami oleh teman saya. Dia dulu berkarya benar-benar menuruti apa yang dia suka tanpa memikirkan apakah orang suka atau tidak yang terpenting dia dapat menyalurkan cara pandangnya terhadap dunia melalui medium fotografi. Akan tetapi, setelah dia menjadi juara di salah satu perlombaan fotografi bergengsi di indonesia dia merasa hampa dalam berkarya, gundah tak tentu arah.

Permasalahan yang dialami oleh teman saya adalah konflik batin yang saya sendiri pun pernah mengalami hal sedemikian rupa. Dimana kita berkarya terlalu memikirkan penerimaan dari orang lain. Sehingga, kita berkarya tidaklah jujur. Karya kita hanya berorientasi pada jempol dari masyarakat luas. Seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya diatas. Mencari pengakuan dari masyarakat luas bukanlah suatu yang salah. Setiap seniman pasti senang jika karyanya mendapatkan apresiasi positif, tetapi apakah kita dapat berdamai dengan diri kita sendiri. Karya yang kita hasilkan yang disukai banyak orang tersebut kita benar-benar suka atau tidak? Jika memang hal itu dapat berjalan selaras dangan diri dan ego kita sendiri, bahwa memang dengan seperti itu kita mendapatkan kepuasan diri. It’s No Problem! Akan menjadi masalah jika hal itu bertolak belakang.

Memang yang paling indah apabila kita berkarya dengan cara kita dan orang mengapresiasi positif hal tersebut. Akan tetapi semuanya butuh proses dan tidak instan. Kita bisa ambil kisah Thomas Alfa Edison yang bercita-cita menjadikan malam terang sebagaimana siang. Setelah beribu-ribu kali observasi, Berhasil juga apa yang dia cita-citakan. Alhasil, sampai saat ini kita merasakan buah dari masterpiece Thomas Alfa Edison dan  jika kita mendangar nama Thomas Alfa Edison pasti kita kan mengacungkan jempol padahal dulu dia dianggap gila sebelum dia berhasil menemukan bohlam.

Semua ada pada tangan kita masing-masing. Kita berkarya untuk siapa?. Untuk orang lain atau untuk diri sendiri? Apakah kita dapat berdamai dengan diri kita untuk keputusan kita tersebut? Hanya diri kita masing-masing yang dapat menjawabnya.