© dinprasetyo

Literasi Visual

Visual literacy / Literasi Visual adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar atau visual. Visual literacy hadir dari ide bahwasanya sebuah gambar bisa ‘dibaca’ dan arti bisa dikomunikasikan dari proses membaca.

Istilah visual literacy dikenalkan oleh John Debes, co-founder dari International Visual Literacy Association. pada tahun 1969. Pada dasarnya literasi visual berusaha menjelaskan bagaimana manusia melihat objek atau benda lalu menginterpretasi dan apa yang dipelajari dari pembacaan itu.

Dalam proses berkarya, paling tidak ada tiga pihak yang terlibat. Pembuat karya, Karya itu sendiri dan penikmat atau pembaca. Pembuat karya, dalam hal ini, fotografer memiliki sebuah ide, sebuah konsep mengenai sesuatu. Misal, ide tentang seorang ibu yang memikirkan masa depan anak-anaknya di mana mereka hidup dalam kemiskinan akibat Depresi Besar.

 

Dorothea Lange, Migrant Mother,
Dorothea Lange, Migrant Mother, 1936

 

Ide itu lalu dituangkan dalam sebuah foto yang lalu ‘dibaca’ oleh pembaca. Pembaca menginterpretasi pesan itu layaknya membaca artikel Koran lalu terbaca pulalah apa yang ingin disampaikan fotografer mengenai peristiwa yang dilihatnya dan ide yang ada dalam pikiranya. Pembaca (dalam hal ini pemerintah) lalu bereaksi, misalnya, dengan mengirimkan bantuan berupa 20.000 pon makanan ke perkampungan tempat ibu itu. Pembaca lain (John Steinbeck), ada yang terinspirasi dan membuat novel berjudul ‘The Grapes of Wrath’ .

Ketiga elemen ini tak bisa dipisahkan. Sang fotografer membuat karya, viewer melihat dan memaknai fotonya. Tapi, bagaimana, sebenarnya proses pemaknaan yang terjadi antara pembuat karya-karya-pembaca?

Bagaimana pembaca memaknai sebuah karya? Lalu bagaimana fotografer mempelajari proses pemaknaan tersebut untuk lalu menggunakannya dalam membuat foto, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat dibaca sesuai yang diinginkan oleh fotografer?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin coba dipahami oleh visual literasi. Bagaimana mata manusia membentuk sebuah kisah dari foto atau teks visual lain yang dia lihat?

Visual literacy, atau literasi visual, bukanlah ilmu yang baku dan sudah mapan. Tidak seperti ’saudaranya’ ‘literasi aksara’ yang sudah dimapankan dengan salah satunya ilmu bahasa atau linguistic. Literasi visual cenderung masih baru. Pembahasannya tersebar dalam berbagai macam dispilin ilmu, seperti ilmu komunikasi, filosofi, sosiologi, ilmu media massa bahkan ilmu psikologi, antroplogi dan sejarah seni dan lain-lain juga membahas problematika pembentukan pemaknaan teks visual tersebut.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: