Lensa Kit Fujinon

Advokasi Terhadap Lensa Kit

Tulisan asli oleh Suryo Brahmantyo (@siboglou).

Anda mungkin saja sama dengan saya, mulai memotret dengan menggunakan ‘kamera serius’ sepaket dengan lensa bawaan atau lebih sering disebut lensa kit. Bagi pemula, menenteng DSLR dan lensa kit sudah cukup memupuk rasa percaya diri. Karena paling tidak, ia akan merasa fotonya akan lebih baik dari sebelumnya ketika masih menggunakan smartphone atau kamera saku. Hingga suatu saat, rasa percaya diri ini akan luntur setelah ia bertemu teman-teman komunitas foto atau menyaksikan ulasan di internet.

Ya, kadang lingkungan kita memang sekejam itu.

Perangkat pertama yang saya gunakan adalah EOS 400D, menggantikan status kepemilikan punya teman, dan lensa fix pinjaman darinya; 50mm, keduanya sama-sama terbitan Canon. Waktu itu hanya mampu mengakuisisi body kamera saja. Baru beberapa bulan kemudian, akhirnya saya membeli 18-55mm via forum jual beli di internet. Bekas pula, tentu saja. Selama beberapa tahun lensa kit ini saya gunakan untuk memotret berbagai urusan, dari kebutuhan pribadi hingga kerjaan.

Bukan Yang Terbaik

Semua sudah tahu, lensa kit bukan yang terbaik. Bahkan sebagian orang mengatakan sebaliknya. Tapi menurut saya, lensa ini cukup baik untuk proses pembelajaran. Seorang pemula harus paham apa bedanya baik dan buruk, mengapa dianggap baik, demikian pula sebaliknya. Hingga kemudian ia dapat memutuskan mana yang terbaik untuk dirinya.

Apakah lensa ini tajam? Tentu saja tidak. Jika dibandingkan dengan lensa-lensa seri premium. Untuk cetak resolusi besar akan nampak jelas perbedaannya. Namun faktanya, mayoritas fotografi di era digital hanya berakhir di internet. Diunggah di akun Facebook, Flickr, Instagram masing-masing, yang ukurannya tidak lebih dari 1 megapixel. Anda melampaui jagoan jika dapat membedakan hasil lensa kit dan lensa premium hanya dengan melihat foto yang berukuran sekecil itu.

Faktor lain yang menentukan ketajaman selain kualitas optik adalah cahaya, dan bagaimana mengolahnya. Menguasai teknik pencahayaan tidak sekedar memahami kegunaan Evaluative, Center-Weighted atau Spot Metering, tapi juga memahami bagaimana lensa yang kita merespon cahaya. Tidak akan ada lensa kit yang merasa terintimidasi dengan lensa gelang merah jika penggunanya menguasai teknik ini.

fashion Week
Fashion Week, Jakarta, 2012 | Difoto dengan lensa Canon EF-S 18–55mm f/3.5–5.6 IS USM. © Suryo Brahmantyo

Karakteristik

Biasanya sudah template, merk apapun, lensa kitnya adalah zoom dengan rentang fokal antara 18mm hingga 55mm. Walaupun tidak semua lensa kit adalah 18-55mm, tapi dengan menyebut lensa kit, orang langsung mengasosiasikannya demikian.

01. Murah

Secara alamiah, lensa kit digolongkan ke dalam lensa murah. Pabrikan kamera dan lensa tidak perlu merasa sensitif membaca kata ‘murah’. Mereka sengaja saling berlomba menjangkau pengguna DSLR baru dengan merancang lensa dengan harga seminim mungkin.

02. Panjang fokal

Dengan rentang fokal 18-55mm, seolah kita memiliki beberapa lensa fix dalam satu unit. Paling tidak, di dalamnya ada lensa dengan panjang fokal 18mm, 24mm, 28mm, 35mm, dan 55mm. Bidang pandang yang dihasilkan pada masing-masing panjang fokal, kira-kira sebanding dengan 28mm, 35mm, 50mm, dan 85mm, pada kamera full frame.

Mengambil referensi dari para fotografer internasional, banyak sekali foto berpengaruh yang dihasilkan dari lensa dengan panjang fokal di rentang 18-55mm (atau 28–85mm, pada full frame).

03. Apertur

Pada body lensa kit, biasaya tertulis kode 18–55mm ƒ/3.5–5.6; pada posisi 18mm, akan menghasilkan apertur maksimal ƒ/3.5, dan di 55mm, akan menghasilkan apertur maksimal ƒ/5.6. Untuk hasil maksimal, hanya gunakan lensa ini pada kondisi pencahayaan yang benderang.

04. Kualitas fisik

Jika Anda termasuk orang yang menilai kualitas barang dari melihat dan memegang, jangan langsung membuang lensa ini. Sabar dulu, meskipun demikian, lensa ini masih bisa berbuat sesuatu. Kadang malah cukup membantu jika Anda sedikit menepikan faktor-faktor teknis.

Kepulauan Seribu, 2015
Kepulauan Seribu, 2015 | Difoto dengan lensa Fujinon XF 18–55mm f/2.8–4 OIS. © Suryo Brahmantyo

Memaksimalkan Lensa Kit

Dalam proses mempelajari karakteristik lensa kit, biasanya kita tertarik untuk membandingkannya dengan lensa lain. Dan kemudian menghasilkan temuan-temuan baru yang cenderung menyudutkan posisi lensa kit. Hingga akhirnya, memutuskan untuk berganti lensa yang lebih baik. Ini akan menjadi masalah ketika kita dihadapkan dengan keterbatasan dana.

Tapi masa iya, lensa kit ngga ada tajam-tajamnya?

Tidak ada salahnya kita mengapresiasi segala sesuatu yang kita punya. Jangan mudah percaya dengan opini-opini miring yang beredar. Opini tidak akan pernah menjadi teori tanpa diuji dan dicoba. Dan teoripun tidak akan menjadi mutlak karena selalu ada penyesuaian.

Bagi teman-teman yang menggunakan lensa kit sebagai andalan, jangan berkecil hati dulu. Kekurangan teknis bisa ditutup dengan kekuatan konten foto yang kita hasilkan. Ini bisa didapat dengan memperbanyak literasi visual; membaca buku foto dan buku apapun yang mengandung foto. Atau bisa juga dengan membuka jendela dan pintu baru, mencoba bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan fotografi.

Ya, karena terlalu sering berkomunitas dengan sesama fotografer hanya akan berakhir dengan mahal-mahalan alat.

 

Suryo Brahmantyo
Suryo Brahmantyo

twitter

instagram

facebook


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: